Taman Firdaus dari SMA Dempo Malang

Penulis : Pak Hadi Pratikno (mantan Guru Bahasa Indonesia). Editor: Fransisca Ajeng Handayani

 

Alumni, siswa, orang tua, bahkan masyarakat luas memberi predikat sekolah terhebat. Saya, yang sejak tahun 1987 hingga Juni 2020 bergulat di dalamnya ingin membuktikan teori itu. Benar teori itu. Tidak ada yang meleset. Bukan sebuah promo, toh saya sudah pensiun, tetapi sebagai testimoni betapa indah  dan merdunya bisa bergulat dalam arena perang tanding yang sangat ketat itu.

 

Sambal Pecel dan Nilai Universalnya

Saat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya, saya diterima laki laki berjubah putih, berkacamata, di ruang direktur. Tulisan itu tertempel di atas pintu masuk ruang Kasek dan juga ada di atas mejanya. Pukul 07.30 saya diminta duduk di ruang itu. Tas berisi map berisikan lamaran kerja saya siapkan dan saya letakkan di atas meja. Tidak ditanya mana lamarannya, tetapi justru ditanya untuk pertama kalinya, ini Pak Tik, ya.  Lhooo kok tau nama saya. Lalu saya ditanya sudah sarapan belum. Saya jujur menjawab, belum. Beliau angkat telepon tak berapa lama seorang karyawan membawa nasi bungkus dan teh panas untuk saya. Saya tidak ditanya mana lamaran, status, dan lainnya. Usai sarapan, saya diajak ke ruang guru, saya diperkenalkan dengan guru dan seseorang yang juga belum saya kenal diminta mengantar saya ke rumah yang akan saya tempati di Klampok Kasri II. Di sana ternyata dihuni anak-anak Dempo, seperti Pak Himawan Jalu yang sekarang menjabat Kepala TU.

Belakangan saya baru tahu kalau orang berjubah itu Romo Siswanto. Dan juga saya baru tahu kalau yang mengantarkan itu Bapak Diro, adik ipar sang Romo.

Itulah awal saya mulai mencintai Dempo yang memang benar apa adanya. Keduanya sudah berada di alam keabadian.

Itu juga yang menjadi inspirator hidup dan karya saya selanjutnya bahwa untuk melakukan pekerjaan harus mencintai hal yang sebenarnya. Tidak ada batas perbedaan.  Semakin hari saya semakin mengaguminya. Tingkat kedisiplinannya luar biasa, hatinya mulia, ketulusannya bagai merpati putih, senyumnya menggetarkan jiwa, wawasannya mendunia, kekeluargaannya sangat terpuji, khotbahnya adalah sikap dan perilakunya, tak pernah berhenti memikirkan kesejahteraan anak buah. Sering saya disuruh datang di tempat beliau tinggal dan pulangnya diberi kue atau sambel pecel.

Saya baru paham bahwa sambal itu simbol keserhanaan yang terdiri berbagai ramuan. Saya juga pernah ditanya mengapa kaos kakinya sudah rusak, lalu saya diberi uang 5000 rupiah untuk membeli kaos dan sisanya saya kembalikan, lalu beliau memasukkannya di laci tempat beliau mengambil.

 

Siswa yang Cerdas

Kalau ingin melihat cewek cantik ya di Dempo. Kata orang. Benar 100 persen. Kalau ingin lihat siswa siswi cerdas dan berbudi luhur ya masuk saja di Dempo. Benar 100 persen.

Saya mulai mengajar di kelas dua. Luar biasa, heboh, hebat, ramai, asyik. Semua siswa aktif dalam pembelajaran, terkadang banyak pertanyaan yang tidak saya duga sebelumnya. Cerdas memang, tetapi luar biasa akal budinya. Mereka seakan berteman tetapi memperlakukan saya sebagai, teman, guru sekaligus orang tua. Saya benar-benar tertantang dengan hal ini. Kini mereka sudah mendunia dengan segala profesinya. Tak ayal saat ada reuni mereka masih ingat dengan nama saya bahkan mereka begitu respek dan hormat dengan gurunya meski sudah menjadi orang hebat. Ya tentu ,ini tak lepas dari kesehariannya dengan sang Direktur beserta guru-gurunya.

Orang tua pun tidak acuh tak acuh dengan saya. Meski tidak begitu kenal, mereka sangat menghormati guru.

 

Rasa Viva Dempo

Semakin hari, semakin cinta akan Dempo. Kedua anak kandungku juga berstatus alumni Dempo, yang mbarep dokter gigi, yang bungsu insinyur. Kalau SMA nya bukan Dempo lebih baik nggak usah sekolah. Itulah kata-kata istriku, almarhum, waktu itu.

Kalau bicara Dempo, tentu tak lepas dari aktivitasnya. Ketika Dempo Fair, ratusan alumni yang tersebar di seantero nusantara berduyun-duyun datang. Mereka ingin melepas kangen dengan guru.

Saya terjun mendampingi dunia jurnalistik serta lomba lain. Sering saya ajak terjun langsung ke lokasi, seperti koran, majalah, kampus, dan lain-lain.

 

Akhir Perjalananku

Saya mencintai profesi. Bagi saya, pekerjaan itu amanah. Saya dipercaya oleh lembaga untuk mendidik anak. Orang tua mempercayai SMA Dempo sebagai tempat penggemblengan anak anaknya. Maka, saya menganggap dan memperlakukannya sebagai amanah sekaligus ibadah. Mereka layaknya anak saya. Terkadang sesekali sekelompok siswa datang ke rumah hanya untuk main, makan, minum, rujakan.

 

Guru yang Baik Hati

Namanya keluarga besar Dempo. Saya memperlakuan sesama kolega sebagai orang tua, teman, sahabat  rekan kerja, serta anak.  Kalau ada salah paham saya mencari dan meminta maaf, kalau ada yang minta masukan ya aku cerita, kalau ada yang motivasinya sedang jatuh saya ajak ke kantin. Kalau ada yang sedang jatuh cinta ya…..saya tidak ajak ke mana mana.

Pokoknya, sejak awal masuk dan saya masih bisa berguyon ria dengan beliau, seperti Pak Putu, Pak Handoko, Pak Kamto, Pak Heri, Pak Wadi, Pak Maruto, Pak Karman, Pak Haryadi, Bu Oentari, Bu Wagio, Bu Hermin, Pak Mado, Pak Nyoto, Pak Iren, Bu Ida, Bu Yuli, Pak Sambel Goreng Susilo, Pak Anton, Pak Wiji, Rm Wignyo, Rm Sixtus, Br Herman, Br Vianney, Pak Thomas, Pak Karel, Pak Dal, Pak  Harjo, Pak Hands , Pak Haryanto dan juga  sampai generasi alumni yang mengabdi di Dempo, seperti Pak Ricky, B Mida, Bu Ajeng, Bu Adea ,Bu Monica, hingga generasi terbaru Bu Agata, wahhh  asyik. Saya tidak menyebut satu per satu karena terbatasnya halaman dan waktu, mohon dimaafkan. Belum lagi Kasek yang sekarang, Rm Abadi memanggil dengan lisensi batuki Duda Keren sambil tertawa lebar tanda ramah kebaikan.

 

Mendekati ujung Juni, tanggal 23 saya harus berpamitan di Aula Atas. Di tempat itu sudah berkumpul 85 guru dan Pengurus Yayasan. Aura positif mereka terpancar dari sorot matanya. Saya mengatakan kebanggaannya bisa masuk dan mengakhirinya secara manis dengan canda dan tawa yang lebar. Karena masih pandemi, usai acara saya langsung ngacir karena banyak di antara mereka ingin berfoto tanda cinta ingin jabat tangan tanda bersaudara.

Maka di akhir sharing ini saya menyampaikan terima kasih kepada

Yayasan Sancta Maria Malang

Keluarga SMA Dempo

Guru yang baik semua

Karyawan yang baik semua

Orang tua siswa

Alumni

Siswa semuanya

 

Semoga Tuhan memberkati kita semuanya

Viva Dempo

 

Malang, 24 Juni 2020

Hadi Pratikno

08123477930