Harmoni dalam Keberagaman: In Resurrectione Christi, Vita Nova!

Oleh: Reimond Ajnata Pratama X-10/29, Christy Alisha Putri Gamas X-10/09, Darline Gabriela XI B/02, Gwen Analicia Jayadhi XI S4/12 (Tim Jurnalistik)

Pada 18 April 2026, kekayaan budaya Indonesia tercermin jelas dalam barisan siswa-siswi SMA Katolik St. Albertus. Aneka busana adat dengan paduan warna dan pernak-pernik menghiasi tubuh mereka. Kemeriahan tersebut bukan tanpa maksud karena mereka akan mengikuti acara Misa Paskah dan Dempo Choir Competition Tahun 2026.
Kegiatan bertema “In Resurrectione Christi, Vita Nova” (Dalam Kebangkitan Kristus Ada Hidup yang Baru) ini juga menjadi wujud sukacita atas 90 Tahun SMA DEMPO berkarya sehingga berbagai pihak turut berpartisipasi. Sebanyak 700 murid dari 23 kelas, baik kelas X maupun XI ikut menyumbangkan suara emas. Selain itu, para orang tua/wali murid juga diajak untuk memberikan dukungan dan apresiasi atas kerja keras Dempoers.
Misa Paskah dan Dempo Choir Competition 2026
Sebelum acara puncak, siswa-siswi dan guru mengikuti misa paskah. Misa dipimpin oleh Rm. Robert Pius Manis, O.Carm., sebagai Konselebran Utama. Hadir pula Romo Fransiskus Pati Koten, O.Carm., dan Romo Antonius Denny, O.Carm. Dalam kesyahduan misa, Romo Robert Pius Manik, O.Carm., memberikan khotbah. Beliau mengingatkan akan ‘Kekuatan dari Ketakutan’. “Rasa takut dapat mengekang mental dan upaya. Kadang kita tak berani mencoba sesuatu. Bahkan ketakutan membuat kita tak dapat berpikir jernih ketika dihadapkan pada masalah atau situasi terjepit. Di lain sisi, ketakutan dapat dijadikan kekuatan bagi pihak lain yang ingin mengambil kontrol,” ujar Romo Robert Pius Manik, O.Carm. Beliau meminta Dempoers untuk merenungkan akar dari ketakutan. Kemudian, berani memeluk kelemahan, memperbaiki, dan maju dengan bangga. “Ketakutan tidak dapat dihilangkan jika kita tak berani menghadapinya,” tegasnya lagi. Pesan tersebut tidak saja berkaitan dengan kebangkitan Dempoers melawan ketakutan seperti Yesus, tetapi juga harapan baru dan keberanian untuk mengembangkan diri.
DCC (Dempo Choir Competition) pun dimulai. Acara yang menjadi tradisi ini dibuka oleh Bruder Antonius Sumardi, O.Carm., sebagai Kepala SMA Katolik St. Albertus Malang. Beliau menyambut para murid dan orang tua dengan bangga. Beliau juga mengungkapkan bahwa murid-murid sudah mendapat bekal selama pembelajaran di kelas dan akan bersaing secara jujur sehingga dukungan dari orang tua dan guru sangat penting. “Para murid akan menyanyikan lagu yang sama, yaitu lagu paskah dan lagu daerah. Untuk menampilkan lagu tersebut, mereka sudah berlatih sejak Januari bahkan didampingi oleh pelatih yang berbeda. Satu kelas terdiri dari 30 murid, tetapi mereka harus menghasilkan kesatuan harmoni. Oleh karena itu, mari kita nikmati dan apresiasi kerja keras mereka dalam balutan keberagaman budaya Indonesia,” ujar Br. Antonius Sumardi, O.Carm.
Lampu panggung pun perlahan meredup, menyisakan keheningan yang mendebarkan di dalam aula SMA Katolik St. Albertus Malang. Ratusan pasang mata tertuju ke arah sorotan lampu. Satu-persatu kelompok paduan suara dari setiap kelas mempersembahkan kerja keras mereka. Lucia Nur Ekawati dan Eduardus Suseno selaku juri sudah siap di bangkunya masing-masing.
Setelah persaingan sengit yang mempertemukan teknik vokal prima dan interpretasi musik, harmoni terbaik akhirnya menemukan tuannya. Berdasarkan hasil penilaian dewan juri yang dilakukan secara objektif, ditetapkan para pemenang dalam ajang Dempo Choir Competition tahun 2026 ini. Juara I diraih oleh X-9, yang juga memperoleh penghargaan Dirigen Terbaik atas kemampuannya dalam interpretasi musikal. Juara II diraih oleh kelas XI-S.4 yang juga berhasil meraih penghargaan sebagai Pembawa Lagu Daerah Terbaik. Sementara itu, Juara III diraih oleh XI-A.2 dengan penampilannya yang solid dan harmonis.
Sorak-sorai penonton belum usai, karena pengumuman pemenang masih berlanjut. Pada kategori Juara Harapan I diraih oleh kelas X-6. Harapan II dicapai oleh kelas XI-A.5, yang juga berhasil memperoleh penghargaan pada kategori Pembawa Lagu Paskah Terbaik. Kemudian, Harapan III pun berhasil diperoleh kelas X-4.
Kisah di Belakang Panggung DCC
Seperti inti pesan Br. Antonius Sumardi, O.Carm., kemenangan tak selalu ditunjukkan dengan piala. Kemenangan juga dibuktikan dengan kekuatan mental dalam menjalani proses. Hal inilah yang juga disadari oleh Dempoers sebagai nilai yang diajarkan di SMA Katolik St. Albertus. “Setiap pulang sekolah, kami melakukan pemanasan, berkelompok sesuai warna suara, dan bernyanyi. Rutinitas ini sudah kami mulai sejak awal Januari,” ujar Dionicius Kiyoshi, murid kelas XI IPA 4 yang ikut berpartisipasi dalam kompetisi. “Kami berlatih sebanyak tiga kali dalam seminggu. Kadang kami harus melawan dengan ego, lelah, dan tuntutan kerja sama tim. Belum lagi segudang PR dan janji les di luar aktivitas sekolah,” kata Gwen Analicia, siswi kelas XI IPS 4.
Meskipun begitu, Dempoers berhasil mengalahkan tantangan tersebut. Bahkan sebelum tampil, mereka masih berlatih agar bisa memberikan yang terbaik kepada penonton. Hal ini tercermin dalam upaya dan senyum ceria mereka.
Persembahan dari Guru-guru
Demi mendukung siswa-siswi yang telah tampil, para guru juga naik ke panggung. Kehadiran mereka sontak disambut riuh antusias dari penonton. Para guru yang pernah meraih gelar Juara II dalam Gempita Awards 2025 ini melantunkan lagu berjudul Hai Umat, Mari Nyanyikan dan Ojo Dipleroki. Penampilan mereka tidak saja memberikan hiburan, tetapi juga semangat dan teladan agar para peserta didik tidak menyerah dan selalu berkarya.
Dempo Choir Competition 2026 telah berakhir dan Mars Dempo dikumandangkan oleh seisi aula. Lirik lagu ini juga yang mengingatkan kembali guru, murid, dan orang tua bahwa keanekaragaman seni budaya, semangat, doa, dan egaliter akan mengasah rasa dan suara.




