Menghayati Sumpah Pemuda: Pentingnya Eksistensi Diri bagi Para Perempuan

Oleh : Sharon Natania XII-S.4/32
MALANG, 28 Oktober 2025 – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di SMA Katolik St. Albertus Malang (SMA DEMPO) berlangsung khidmat dan penuh semangat. Upacara yang diselenggarakan di lapangan sekolah ini tidak hanya menjadi ritual tahunan, namun juga momen penegasan kembali peran vital generasi muda, khususnya pemudi, dalam mengukir masa depan bangsa.
Di tengah barisan siswa dan guru, suasana hening menyelimuti ketika Bruder Mardi selaku Kepala Sekolah SMA Katolik St. Albertus Malang, meminta saya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Kelas (DPK) bersama dengan Jojo, selaku Ketua OSIS SMA Katolik St. Albertus, untuk menyampaikan sebuah pesan khusus. Sebagai siswi, saya menyampaikan “Amanat Pemudi Indonesia.” Amanat ini menjadi sorotan utama, berisi panduan nilai-nilai inti bagi pemudi di tengah hiruk pikuk modernitas.
Berikut adalah beberapa poin yang saya sampaikan dalam amanat upacara Sumpah Pemuda. Nilai sejati bukan dari penampilan. Jangan biarkan dunia mendefinisikan nilai dirimu dari penampilan, tapi dari pikiran dan keteguhan hatimu. Keanggunan sejati bukan dari wajah yang dirias, tapi dari nilai yang dijaga. Kecantikan fisik hanyalah kulit luar.
Kekuatan sesungguhnya seorang pemudi terletak pada kecerdasan, integritas, dan ketegasan prinsip yang dipegang teguh.
Berani berpihak pada kebenaran. Jadilah pemudi yang cerdas dan berani berpihak pada kebenaran, bukan hanya mengikuti tren. Banyak yang cantik di layar, tapi sedikit yang berani di medan juang. Pesan ini menantang para pemudi untuk menjadi agen perubahan yang kritis, tidak mudah terombang-ambing oleh arus tren sesaat. Keberanian membela kebenaran adalah bentuk revolusi pemuda masa kini.
Memperjuangkan martabat, bukan eksistensi. Gunakan kebebasanmu untuk memperjuangkan martabat, bukan sekadar eksistensi. Karena perempuan kuat bukan yang paling banyak pengikutnya, tapi yang paling besar pengaruh kebaikannya. Perbedaan antara sekadar ada di media sosial dengan berarti di masyarakat. Martabat seorang pemudi diukur dari kontribusi positif dan pengaruh kebaikan yang ia sebarkan. Girls, you worth more than a body. You are someone, not somebody.
Berjuang untuk berarti, bukan sekedar tampil. Pemudi sejati tidak bersaing untuk tampil, tapi berjuang untuk berarti. Kalian bukan pelengkap sejarah, kalian adalah penulisnya. Poin ini menegaskan bahwa fokus pemudi harus dialihkan dari kompetisi penampilan menuju perjuangan untuk menciptakan dampak nyata. Pemudi DEMPO didorong untuk mengambil pena dan menuliskan babak baru sejarah Indonesia dengan karya dan tindakan.
Menyalakan terang dengan empati. Pemudi sejati tidak bersinar dengan menjatuhkan, tapi dengan menyalakan terang di sekitar. Dunia butuh perempuan yang berani melawan kekejaman dengan empati. Penutup amanat ini menyerukan pentingnya empati sebagai senjata terkuat. Kepemimpinan pemudi adalah kepemimpinan yang membangun, bukan meruntuhkan, serta berani menghadapi kekerasan dan ketidakadilan dengan kasih dan kepedulian.
Dengan adanya Amanat Pemudi yang disampaikan oleh saya dan Jojo, peringatan Sumpah Pemuda di SMA DEMPO tahun ini semakin diperkaya. Kami menegaskan bahwa generasi muda SMA Santo Albertus adalah “calon pembuka pintu gerbang Indonesia Emas masa depan,” yang harus mempraktikkan semangat persatuan, keberanian, dan integritas dalam setiap langkah. Saya menyampaikan ini murni karena saya ingin memberikan apresiasi kepada para perempuan di luar sana yang kurang diapresiasi dan dihargai, mengingatkan untuk bisa survive di dunia ini, mereka harus menjadi berani.


