Merancang Artikel Jurnalis yang Berkualitas bersama Harian Kompas
Oleh: Tiara Advenia Utoyo
Hari Pertama
Topik yang diangkat yakni mengenai “Jurnalisme Mencerahkan di Era Digital” yang disampaikan oleh Bu Riana A. Ibrahim.
Jurnalisme mencerahkan bertujuan untuk membantu khalayak umum terhindar dari berita-berita yang misinformasi, hoax, bohong, berisi propadanda, dan disinformasi. Dalam mewujudkan upaya ini, pihak Kompas.id melakukan agenda rutin dan aturan penting mengenai peliputan berita dengan cara melakukan liputan mendalam (in depth reporting), investigasi, jurnalisme data, analisis, dan laporan panjang multimedia.
Dalam dunia jurnalisme, diperlukan pemahaman yang benar terkait nilai-nilai yang ada di dalamnya yakni antara lain data harus akurat dan valid (tidak mengada-ada), obyektif dan factual (bukan sengaja didramatisir atau dilebih-lebihkan), independen (bersifat individu berdasarkan ketentuan dari masing-masing konten), integritas (berisi tentang kejujuran dan bermutu), dapat dipercaya (dapat dibuktikan kebenarannya), tanggung jawab sosial (mampu mempertanggungjawabkan isi tulisan yang dipublikasikan), menjaga privasi individu (dengan menyamarkan nama narasumber atau korban menggunakan inisial nama), tidak bias dan adil (tidak menguntungkan salah satu pihak), beretika (dalam mencari informasi selama peliputan dan tidak memaksa), dan menunjung nilai kemanusiaan (tidak memublikasikan privasi informasi atau biodata dari seseorang secara sengaja maupun tidak disengaja).
Pembuatan artikel jurnalistik dapat dilakukan dengan melibatkan banyak pandangan soal isu atau pengalaman yang terjadi di sekitar. Selain itu, penyelenggaraan suatu acara, tokoh inspiratif, dan refleksi juga bisa menjadi bahan dalam menuliskan artikel jurnalistik. Namun, diperlukan beberapa struktur yang runtut dalam pembuatannya yakni harus memuat lead atau prolog, body (5W + 1H), informasi pendukung, data, dan tail. Tidak lupa juga setelah mengembangkan konsep hingga mengumpulkan semua informasi, dibutuhkan tahap memoles atau editing sebelum pada akhirnya diserahkan pada editor untuk dipublikasi.
Teori terakhir yang disampaikan adalah mengenai penggunaan bahasa dalam jurnalistik. Berbeda dengan tulisan cerpen atau puisi, jurnalistik lebih mengedepankan kata-kata yang sederhana dan lugas. Penggunaan kalimatnya pun bervariasi dan panjang. Meskipun panjang, tetap menjaga Batasan agar tidak kaku dan boros kata. Perlu juga menggunakan istilah populer untuk meningkatkan minat baca dan mengaitkan dengan kondi pembaca. Terakhir, ditemukan istilah yang disampakan oleh Robert Gunning yang mengatakan “write to express, not to impress”.
Hari Kedua
Topik yang diangkat yakni mengenai “Kelas Seri Jurnalistik: Teknik Menulis Feature yang Menggugah bersama Kompas Institute” yang disampaikan oleh Bu Maria Susy Berindra salah satu wartawan Harian Kompas (Kompas.id).
Jenis tulisan jurnalistik (narasi dan deskripsi) terdapat enam jenis
- human interest: kisah di kehidupan sehari-hari seorang manusia (bisa membahas tentang kisah masa kecil seseorang);
- sejarah: kisah dari seorang wartawan yang menceritakan kisah atau suasana yang terjadi di masa silam contoh salah satu karyanya berjudul “Demi Pram”;
- biografi: kisah tentang seorang tokoh yang inspiratif;
- perjalanan: kisah yang meliputi tempat wisata, perjalanan ziarah dan biasanya ringkas tetapi juga bisa disampaikan secara runtut dan lengkap;
- petunjuk praktis:
- ilmiah: suatu artikel yang mengangkat hasil laporan penelitian ilmiah bukan hanya dari mahasiswa melainkan juga bisa melibatkan dosen pembimbingnya beserta manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari.
Dalam membuat feature perlu memperhatikan beberapa hal yakni
- pembukaan yang menarik;
- undang pertanyaan pembaca;
- argumentasi detail dan lugas;
- naratif/deskriptif;
- tunjukkan, bukan katakan; dan
- akhir yang bagus dan menyentuh.
Contoh-contoh feature dalam berita
Feature perlu dibubuhi keterangan-keterangan tempat dan waktu terselenggaranya acara supaya bisa menambah wawasan pembaca dan seakan-akan terlibat langsung dengan apa yang dibaca. Kemudian, diselipi percakapan sosok yang diwawancarai. Suasana yang digambarkan juga dideskripsikan dengan detail sehingga meningkatkan minat baca pembaca terhadap berita tersebut. Feature tidak bisa dikombinasikan dengan lebih dari dua jenis. Selain itu, dokumentasi atau rekaman wawancara diperlukan dalam pra penulisan artikel. Hal inilah yang membedakan feature dengan novel dan hanya fokus pada satu hal saja.
Kesalahan-kesalahan yang sering ditemui antara lain
- kalimat “keriting”;
- kalimat tidak lengkap; dan
- susunan kalimat tidak beraturan.
Cara menentukan angle persitiwa untuk dijadikan feature
- mencari peristiwa yang bisa menyentuh penulis (apa yang menarik untuk orang lain, pasti menarik untuk penulis);
- selain itu, kalimat yang dituliskan bervariasi dengan tidak menggunakan kata yang sama berulang-ulang dan memilih padanan kata yang sesuai dengan kata yang hendak ditulis;
- penggunaan bahasa yang digunakan sederhana maksimal 40 kata;
- Pembukaan feature bisa berupa lirik lagu (dilengkapi dengan judul dan nama penyanyinya);
- jika membahas soal lukisan, lebih baik di alinea pertama membahas tentang objek baru disisipi keterangan seperti lokasi, acara, atau tanggal terjadinya;
- fakta-fakta pendukung artikel, cerita inspiratif, dan pesan yang disampaikan pada pembaca serta tidak dramatis wajib dihadirkan dalam feature;
- tidak diperkenankan menyampaikan perasaan dan opini sehingga isi harus faktual.
Hari Ketiga
Topik yang diangkat yakni mengenai “Menyulap Data Menjadi Cerita” yang disampaikan oleh Bapak Albertus Krisna salah satu tim jurnalisme data harian Kompas/Kompas.id.
Setelah memahami ap aitu jurnalisme dan cara membuat future, pada topik ketiga ini fokus pembahasan mengarah pada salah satu jenis jurnalisme yang memiliki kekuatan tersendiri dibandingkan jenis jurnalisme yang lain yakni jurnalisme data. Hal yang membedakan antara jurnalisme data dengan jurnalisme konvensional yakni dari segi pengumpulan fakta. Jika jurnalisme konvensional menggunakan cara individual, deskripsi verbal, dan makna simbolik yang nantinya dipresentasikan ke publik. Berbeda halnya dengan jurnalisme data yang menggunakan cara kelompok, deskripsi statistik, makna statistik yang nantinya dipresentasikan ke publik.
Dalam membuat jurnalisme data, perlu dilakukan pencarian beberapa data yang akurat dari berbagai sumber dan harus mengikuti perkembangan data tersebut. Setelah melakukan pembersihan dan analisis data, perlu melakukan konfirmasi dengan narasumber terkait (akademisi, pemerintah, pengamat, masyarakat, dan pelaku usaha). Tema dalam pembuatan jurnalisme data meliputi dua jenis yakni tema aktual (tidak harus mencari momentum; perhatian publik memang ada di sana serta harus sesuai dan cepat) dan tema isu lepas (data sudah dimiliki dan perlu menemukan temuan dan angle penulisan harus benar-benar menarik agar bisa menarik perhatian audiens). Beberapa kelompok tema yang diambil yakni politik, ekonomi, regional/metropolitan, humaniora/gaya hidup, Kesehatan, lingkungan/kebencanaan, internasional, dan olahraga.
Berikut adalah beberapa sumber data yang bisa diakses secara gratis dan digunakan untuk memperkuat artikel jurnalisme data yang dibuat. Selain telah disediakan beberapa forum website yang bisa dikunjungi, dilampirkan pula cara penggunannya.
Dalam pembuatan angle perlu memperhatikan beberapa hal seperti mencari pola, verifikasi klaim otoritas (membandingkan capaian saat ini dengan baseline yang ditetapkan otoritas), evaluasi kebijakan (membandingkan capaian saat ini dengan kondisi ideal), dan eksplainer (mengkuantifikasikan suatu fenomena yang dianggap lumrah). Terakhir, pada bagian penulisan dibedakan menjadi tiga bagian yakni hardnews, feature, dan di balik berita. Masing-masing bagian memiliki peranannya berikut rinciannya. Untuk hardnews, bagian-bagian yang penting dan perlu ditonjolkan antara lain artikel, grafis, foto, dan video. Untuk feature, bagian-bagian yang digarisbawahi yakni artikel, foto, dan video. Kemudian, di balik berita, artikel, foto dan video menjadi bagian yang penting.
Terselenggaranya pelatihan jurnalisme ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis non fiksi khususnya artikel atau majalah dan menambah wawasan mengenai keanekaragaman bentuk jurnalisme lengkap dengan cara pembuatannya. Semoga dengan begini, banyak generasi muda yang tertarik menggali kemampuan menulis non fiksi yang berkualitas dengan kekuatan tulisan yang dapat dipertanggung jawabkan dan bernilai moral yang baik.


