Webinar: Empat Prinsip Berlian untuk Semua Guru (Classroom Management)

Oleh: Rachel Michellia
Pada hari Rabu, 10 September 2025 pada pukul 14.00–15.30 WIB, telah dilaksanakan webinar nasional tentang Classroom Management dengan tema “Empat Prinsip Berlian untuk Semua Guru”. Webinar ini dilaksanakan melalui zoom meeting yang diikuti oleh guru-guru di berbagai daerah di Indonesia mulai dari jenjang TK hingga SMA. Webinar ini diselenggarakan oleh PT. Kanisius, Perusahaan yang berkembang dalam bidang penerbitan buku di Indonesia. Narasumber yang menyampaikan materi pada webinar adalah Bapak Sigit Setyawan S.S., M.Pd. seorang penulis buku “Classroom Management Empat Prinsip Berlian untuk Semua Guru”.
Dalam materi, disampaikan tiga tahapan dalam pembelajaran menurut Robert Ganye yaitu: 1. Readiness, adalah kesiapan siswa dalam memulai proses pembelajaran, 2. Learning Process, adalah metode/cara pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran, 3. Development, yaitu seberapa banyak/besar siswa memahami dan menyerap pembelajaran yang telah dilakukan pada proses pembelajaran. Sehingga guru biasa menggunakan assessment untuk mengukur pemahaman siswa tersebut.
Pada suatu proses pembelajaran tersebut dibutuhkan manajemen kelas yang baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut narasumber, terdapat empat prinsip manajemen kelas yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran agar tercipta kelas yang ideal dan kondusif baik untuk guru maupun siswa. Prinsip pertama yaitu peraturan dan prosedur. Prinsip ini meliputi hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam kelas, system punishment atau hukuman dalam artian hukuman yang mendidik bagi siswa. Guru dapat memberikan koreksi terhadap perilaku siswa yang menyimpang dan memberikan konsekuensi jika melakukan hal yang menyimpang. Salah satu contoh penerapan dalam prinsip yang pertama adalah respect teacher and others. Prinsip pertama ini dapat dilakukan dengan tips easy to remember, simple, and effective.
Prinsip kedua yaitu, pembiasaan di awal pembelajaran disarankan guru dapat menerapkan kebiasaan yang baik pada siswa sehingga dari pembiasaan tersebut secara tidak langsung menanamkan karakter yang positif bagi siswa. Contohnya, siswa harus mengetuk pintu terlebih dahulu saat ingin masuk kelas serta menggunakan pilihan kata yang sopan saat berbicara pada guru dan teman dalam proses pembelajaran.
Prinsip ketiga yaitu penguatan. Penguatan dilaksanakan setelah pembiasaan. Contohnya adalah perilaku yang pantas dan tidak pantas. Guru dapat memberikan kejelasan instruksi terkaitan hal yang pantas dan tidak pantas dapat berupa visual, lisan, atau simulasi. Hal tersebut dilakukan supaya siswa tidak hanya terbiasa tetapi juga bermakna untuk kehidupannya. Penguatan juga dapat dilakukan dengan hal lain seperti menggunakan pencatatan pelanggaran, teguran berlebihan, tambahan tugas yang tidak relevan dengan pengajaran. Hal-hal tersebut dapat diterapkan jika siswa tidak melakukan peraturan kelas yang sudah disepakati.
Prinsip yang keempat yaitu, pengenalan pribadi/hubungan. Dalam menerapkan peraturan, dapat menciptakan pengenalan pribadi/hubungan dengan siswa. Dari peraturan menjadi pengaruh, dari takut menjadi patuh, dan dari seadanya menjadi rela. Jika guru dan siswa memiliki pengenalan atau hubungan yang baik, maka prinsip yang lain akan mengikuti/ terlaksana dengan baik pula. Hal ini dikarenakan hubungan sangat mempengaruhi penerapan peraturan, pembiasaan hingga penguatan. Namun, perlu digaris bawahi bahwa hubungan yang tercipta antara guru dan siswa harus memiliki batas wajar.
Kesimpulan dari materi yang telah disampaikan oleh Bapak Sigit sebagai narasumber adalah praktik terbaik dalam mengelola kelas yaitu menerapkan peraturan dan prosedur yang dapat disepakati di awal pembelajaran, pembiasaan dari peraturan dan prosedur, penguatan yang dilakukan oleh guru kepada siswa, dan pengenalan pribadi atau hubungan dengan siswa yang dibatasi dengan batas sosial (guru dengan siswa). Sehingga dalam menerapkan empat prinsip tersebut, manajemen kelas akan kondusif sesuai dengan harapan guru maupun siswa dan potensi ketercapaian tujuan pembelajaran akan semakin tinggi, serta tidak hanya tujuan yang tertulis tetapi juga tujuan pembangunan dan penguatan karakter siswa dapat tercapai.



