“KENDURI 2025: Merayakan Syukur dalam Semangat Helaleke”

Oleh : Christabel Wibisono Immanuel XII-A.5/11 | Ketua Pelaksana Kenduri 2025
Ada kalanya kebersamaan tidak hanya hadir dalam kata-kata, tetapi terasa nyata dalam langkah, tawa, dan kerja tangan yang berpadu untuk tujuan yang sama. Itulah suasana yang hidup pada KENDURI 2025 di SMA Katolik St. Albertus (DEMPO). Di bawah tema besar “HELALEKE”, yang dalam bahasa Papua Tengah berarti gotong royong atau bekerja bersama-sama, seluruh warga DEMPO kembali menyatukan hati untuk merayakan rahmat dan kebersamaan dalam peringatan ulang tahun Santo Albertus, pelindung sekolah tercinta.
Sejak pagi, tepat 7 Agustus 2025, sekolah sudah dipenuhi warna dan semangat yang berbeda dari biasanya. Seluruh bapak ibu guru serta Dempoers kompak mengenakan pakaian adat. Corak warna, kain tradisional, dan aksesoris khas daerah membuat halaman DEMPO serasa menjadi lautan budaya Indonesia. Saat bel berbunyi pukul 07.00, seluruh Dempoers berkumpul di lapangan untuk mengikuti Misa perayaan ulang tahun Santo Albertus. Di bawah cahaya pagi yang lembut, misa berlangsung khidmat. Doa syukur dinaikkan, mengingat segala berkat yang Tuhan anugerahkan, termasuk hasil alam yang biasa kita sebut TUMBIRAH—tumbuhan, ubi, biji, kacang, dan buah—anugerah sederhana namun penuh makna.
Setelah misa, acara dilanjutkan dengan pembacaan dan penyerahan penghargaan masa kerja bagi beberapa guru yang telah setia mengabdi pada sekolah selama 5 tahun, 10 tahun, hingga 25 tahun. Tepuk tangan meriah mengiringi setiap nama yang disebut, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam mendidik generasi muda. Berikutnya, dibacakan sekaligus diserahkan penghargaan penerima beasiswa akademik untuk siswa kelas X. Hal ini dapat menginspirasi Dempoers untuk terus berprestasi.
Suasana berubah menjadi lebih ramai dan antusias. Tibalah saatnya rangkaian lomba dimulai. Seluruh Dempoers mempersiapkan diri untuk mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari lomba menghias tumbirah, pembuatan video TikTok, hingga lomba fotografi dengan pakaian adat. Di taman tengah, menghadirkan konsep baru sepanjang sejarah Kenduri dari tahun ketahun, spesial tahun ini terdapat sebuah videobooth, memberi kesempatan bagi siswa, siswi, maupun guru untuk mengabadikan momen unik di KENDURI tahun ini.
Ketika waktu perlombaan dimulai, tiap peserta segera menuju lokasi masing-masing. Dari seluruh lomba yang ada, yang paling ditunggu tentu adalah lomba menghias tumbirah. Setiap kelas menampilkan kreativitas terbaik mereka melalui susunan tumbuhan, buah, biji, kacang, dan ubi yang disulap menjadi bentuk-bentuk yang penuh simbol dan keindahan. Ada yang membuat pola adat, ada yang menggambarkan makna Helaleke, bahkan ada yang membuat bentuk unik yang mencerminkan karakter kelas masing-masing.
Begitu penjurian berakhir, seluruh warga DEMPO kembali berkumpul untuk melakukan salah satu momen paling khas dalam KENDURI: menyantap tumbirah bersama. Setiap kelas menikmati hasil karya mereka sendiri, membaginya secara adil dan merata, sebagai wujud syukur serta kebersamaan. Setelah semua selesai bersantap, Dempoers kembali ke kelas untuk berdoa penutup. Suasana tiba-tiba kembali hening, seperti memberi ruang bagi setiap orang untuk merenungkan hari yang penuh warna itu. Dengan doa yang sederhana namun tulus, KENDURI 2025 pun resmi ditutup.
KENDURI 2025 bukan hanya tentang makanan dari alam, bukan hanya tentang lomba atau pakaian adat. Lebih dari itu, KENDURI adalah tentang syukur, persaudaraan, dan kebersamaan yang dirasakan oleh seluruh keluarga besar DEMPO. Seperti filosofi Helaleke, ketika kita berjalan bersama, apa pun tantangan dapat dilewati. Terima kasih, DEMPO. VIVA DEMPO!







