PANGGILAN DALAM PELAYANAN

Oleh : Maria Theresia Widhi Krishsyeni XII-B/19

Retret merupakan salah satu kegiatan wajib dari SMA Katolik St. Albertus Malang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjauhkan diri sementara dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Di SMA Katolik St. Albertus, kegiatan retret dilaksanakan mulai 01 Oktober 2025 dan diakhiri pada 25 Oktober 2025 di rumah retret Karmel Syanti Argo, Nongkojajar, Pasuruan ini bertemakan tentang “Pekerjaan: Panggilan kepada Pelayanan”. Dalam retret selama tiga hari dua malam ini, kami, siswa-siswi kelas dua belas, belajar banyak mengenai pelayanan dan pekerjaan. Materi-materi dan ice breaking yang diberikan membuat kami termotivasi dalam melanjutkan karier.
Pada hari pertama saat kami tiba, kami diberikan materi yang sangat menarik untuk mengenal diri kami sendiri secara lebih dekat. Salah satu materinya yaitu sisi liar diri. Dengan materi tersebut, saya dapat mengenal sisi liar saya dan beberapa sisi liar dari teman-teman satu kelas saya. Materi ini membuka kesadaran saya akan sisi liar saya yang cukup dinormalisasi di kalangan remaja. Pada hari kedua, kami pergi Live In. Kegiatan Live In merupakan salah satu bentuk pelayanan yang tidak besar tapi menambah wawasan. Kegiatan ini dilaksanakan dibeberapa tempat yang berbeda sesuai dengan pembagian per kelompok. Ada teman-teman saya yang Live In di kebun bunga, di kandang sapi, dan di kebun cabai. Kebetulan, kelompok saya mendapat lokasi di kandang sapi. Di lokasi Live In, kami mendapat penjelasan mengenai asal usul peternakan sapi, nama dari peternakan sapi tersebut, dan bagaimana perkembangan dari peternakan sapi yang akan kelompok saya gunakan untuk melayani.
Di tempat kami Live In, kami belajar banyak hal. Di sana, kami juga diberi pekerjaan untuk mengemas rumput makanan sapi. Hal tersebut terdengar dan terlihat mudah, tetapi nyatanya tidak mudah. Kami masih belum terbiasa dengan mengemas rumput yang sudah dipotong-potong ke dalam karung dengan jumlah yang sangat banyak. Selain lelah, kami juga terluka beberapa kali karena duri-duri yang ada pada rumput melukai jari, tangan, dan kaki kami. Kelompok saya sempat membatin, “kok bisa, ya, mereka kuat?”. Ternyata, hal yang terdengar dan terlihat mudah tidak semudah itu. Banyak hal yang perlu diperhatikan agar terbiasa. Itu hanya bagian kecil dari pekerjaan mereka sehari-hari. Masih ada memberi makan sapi, memeras susu sapi, membersihkan kandang, membersihkan kotoran sapi, mengirim susu ke KUD, dan masih banyak lagi.
Limbah yang dihasilkan dari peternakan sapi tidak sedikit, terutama kotoran sapi. Kotoran sapi yang menumpuk tidak hanya mengganggu manusia, tetapi juga mengganggu sapi itu sendiri. Maka, pemilik peternakan tersebut memiliki ide yang sangat kreatif untuk mengolah kotoran sapi. Alih-alih menjual kotoran tersebut sebagai pupuk kompos yang hasilnya tidak besar, pemilik peternakan memiliki ide untuk menggunakan kotoran sapi sebagai media peternakan cacing. Jadi, kotoran sapi di sini sebagai ‘tanah’ yang ditinggali oleh cacing. Sejauh yang saya tahu, ada sekitar lima belas cacing yang digunakan untuk eksperimen ide ini. Menurut saya, ide ini sangat kreatif dan keren. Setelah Live In, kami kembali ke rumah retret untuk melanjutkan materi.
Di malam hari pada hari kedua, kami menampilkan tampilan per kelompok sesuai dengan pengalaman dan pembelajaran yang kami dapatkan saat Live In. Tampilan-tampilannya sangat beragam, menyenangkan, dan menghibur. Pada hari ketiga, kami materi untuk yang terakhir kalinya. Materi yang diberikan adalah tentang pekerjaan dan masa depan serta menulis komitmen. Salah satu kegiatan dari materi ini adalah membicarakan kepada beberapa teman tentang siapakah kami di 10 tahun ke depan.
Melalui retret di Karmel Syanti Argo ini, saya belajar banyak hal yang berharga, terutama tentang pelayanan, pekerjaan, dan mengenal diri sendiri dengan lebih dalam. Dari setiap kegiatan yang dilakukan, saya semakin memahami bahwa pelayanan tidak hanya berbentuk tindakan besar, tetapi juga dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus. Materi tentang mengenal sisi liar diri membuat saya lebih sadar akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta bagaimana saya dapat mengarahkan sisi tersebut ke arah yang positif. Pengalaman Live In di kandang sapi juga membuka wawasan saya tentang kerja keras, kreativitas, dan ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup. Saya terinspirasi oleh pemilik peternakan yang mampu mengubah sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi hal yang bermanfaat. Selain itu, melalui kegiatan refleksi tentang masa depan, saya belajar untuk lebih berani bermimpi dan memiliki komitmen untuk mewujudkannya, sambil juga menghargai impian orang lain. Secara keseluruhan, retret ini bukan hanya menjadi waktu untuk beristirahat dari rutinitas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertumbuh secara pribadi dan spiritual agar saya dapat menjadi pribadi yang lebih siap melayani dan bekerja dengan penuh makna di masa depan.
Previous


