Entrepreneurial Education in the Age of AI: from Deep Learning to Impact-Driven Innovation
Oleh: Sylvana Novilia Sumarto
Entrepreneurship Teaching Conference: Connecting Entrepreneurship Teaching to Deep Learning with AI yang diselenggarakan oleh Universitas Ciputra Surabaya pada Rabu–Kamis, 3-4 September 2025 menghadirkan dua hari pembelajaran intensif tentang integrasi kewirausahaan, pembelajaran mendalam (deep learning), dan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan. Hari pertama menekankan landasan filosofis dan pedagogis, seperti pembentukan entrepreneurial mindset, kolaborasi guru-AI, dan penerapan deep learning dalam proyek pembelajaran. Hari kedua menajamkan aspek praktis melalui pendekatan social entrepreneurship berbasis human-centered design serta model mentorship untuk mendampingi mahasiswa wirausaha.
Hari I — Fondasi: Entrepreneurial Teaching dan Deep Learning
1. Pendidikan Kewirausahaan yang Transformatif – Dr. Astrid
Dr. Astrid menegaskan bahwa entrepreneur dapat dibentuk melalui proses “Lahir-Latih-Lingkungan”. Guru berperan sebagai fasilitator Project-Based Learning yang mengaitkan teori dengan konteks nyata. Tiga komponen utama kewirausahaan versi Universitas Ciputra—Approach, Context, dan Environment—menjadi kerangka dalam membangun entrepreneurial identity guru.
Program Entrepreneurial Teaching Certification menyiapkan guru dalam tiga level perkembangan:
– Advocate – menginternalisasi nilai kewirausahaan;
– Innovator – mengembangkan metode dan proyek baru; dan
– Competent Educator – memimpin transformasi pembelajaran di sekolah.
2. AI sebagai Partner Kreativitas Guru – Dr. Trianggoro Wiradinata
AI diposisikan sebagai mitra kreatif dalam proses belajar, bukan pengganti guru. Aplikasi AI mendukung adaptive learning, analitik pembelajaran, serta inklusivitas pendidikan. Guru perlu mengelola data dan wawasan dari AI untuk merancang pembelajaran yang personalized dan reflektif. Sinergi antara kecerdasan mesin dan empati manusia menjadi kunci pendidikan berbasis inovasi.
3. Deep Learning untuk Kewirausahaan – Dr. Dwi Sunu & Christina
Konsep deep learning (Marton & Säljö, 1976) mendorong siswa memahami makna, menghubungkan ide, dan beraksi secara reflektif. Melalui simulasi idea sprint, peserta mengalami bagaimana entrepreneurial mindset tumbuh lewat eksplorasi masalah, kolaborasi, dan refleksi. Pembelajaran semacam ini bukan hanya sekadar menghasilkan produk melainkan juga membentuk karakter kreatif dan berempati.
Hari II — Aplikasi: Dari Social Entrepreneurship hingga Mentorship
1. Social Entrepreneurship dan Deep Learning untuk Inovasi Berdampak – dr. Florence & drg. Agrippine
Sesi ini memperkenalkan social entrepreneurship sebagai bentuk inovasi sosial yang berorientasi pada penyelesaian masalah masyarakat secara berkelanjutan. Mengutip Phills et al., (2008), inovasi sosial adalah “solusi baru yang lebih efektif, efisien, dan adil terhadap persoalan sosial, di mana nilai yang tercipta terutama untuk masyarakat luas.”
Proses pembelajaran menggunakan model Human-Centered Design yang terdiri dari lima tahap yakni sebagai berikut.
1. Empathize – memahami akar masalah melalui observasi dan wawancara langsung.
2. Define – merumuskan pertanyaan masalah yang jelas dan terverifikasi.
3. Ideate – menghasilkan berbagai gagasan kreatif dengan teknik brainstorming kolaboratif.
4. Prototype – menguji ide melalui low atau high-fidelity prototype (sketsa, model 3D, atau aplikasi sederhana).
5. Test – melakukan user testing dengan wawancara dan observasi langsung di lingkungan pengguna.
Metode ini menumbuhkan deep learning karena mendorong peserta didik berempati, bereksperimen, dan berpikir sistemik. Prinsip fail fast, learn fast diterapkan agar mahasiswa mampu merevisi solusi berdasarkan umpan balik nyata.
Kegiatan hari kedua ini mengintegrasikan nilai sosial Ciputra Entrepreneurship—bahwa inovasi tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberi social impact yang terukur.
2. Mentorship Models: Coaching Student Entrepreneurs Toward Deep Learning – Rizki Candra Kusuma
Rizki Candra memaparkan pentingnya peran mentor dalam menumbuhkan deep learning mahasiswa wirausaha. Ia menggunakan model Situational Leadership (Hersey & Blanchard) yang menyesuaikan gaya bimbingan berdasarkan tingkat kesiapan siswa, mencakup dua dimensi utama: kapabilitas dan kemauan.
Empat gaya mentoring dijelaskan sebagai berikut.
1. S1 – Telling/Directing
Untuk mahasiswa pemula (unable & unwilling), mentor memberi instruksi jelas, panduan langkah demi langkah, dan struktur kerja yang ketat.
2. S2 – Selling/Coaching
Untuk mahasiswa unable but willing, mentor tetap memberi arahan namun juga memotivasi, menjelaskan alasan di balik keputusan, dan menumbuhkan semangat eksplorasi.
3. S3 – Participating/Supporting
Untuk mahasiswa able but insecure, mentor bertindak sebagai fasilitator yang mendengarkan dan memberi ruang pengambilan keputusan bersama.
4. S4 – Delegating:
Untuk mahasiswa able and confident, mentor menyerahkan tanggung jawab penuh, memberi kepercayaan, dan hanya memantau pada titik kritis.
Dalam konteks pendidikan kewirausahaan, fase S1-S2 menyerupai peran coach yang membimbing keterampilan teknis, sedangkan fase S3-S4 beralih ke peran mentor yang mendampingi perkembangan karakter dan visi jangka panjang.
Rizki menekankan bahwa esensi mentoring sejati bersifat timbal balik—sebuah hubungan saling tumbuh yang dibangun atas dasar kepercayaan dan refleksi, sebagaimana dikatakan Simon Sinek: “Mentorship is like friendship; it evolves over time and it’s a two-way street.”
Kesimpulan
Topik dari dua seminar ini memperlihatkan hubungan linear antara teori, praktik, dan refleksi yakni sebagai berikut.
– Hari pertama mengokohkan landasan konseptual — membentuk mindset, menguasai pendekatan deep learning, dan memahami peran teknologi.
– Hari kedua mengonversi konsep menjadi praktik nyata melalui social innovation dan mentorship model yang berfokus pada impact creation serta pendampingan berkelanjutan.
Integrasi keduanya melahirkan kerangka pendidikan yang human-centered, AI-assisted, dan impact-driven.
Konferensi dua hari ini menegaskan arah baru pendidikan kewirausahaan di Indonesia.
1. Guru sebagai arsitek ekosistem pembelajaran yang menumbuhkan kreativitas, empati, dan keberlanjutan.
2. AI sebagai partner strategis untuk personalisasi dan efisiensi pembelajaran.
3. Deep learning sebagai fondasi pedagogis untuk membentuk siswa reflektif dan inovatif.
4. Social entrepreneurship dan mentorship sebagai strategi implementatif agar pembelajaran berdampak sosial nyata.
Universitas Ciputra melalui Entrepreneurial Teaching Certification meneguhkan komitmen menjadikan guru dan mahasiswa sebagai agen perubahan yang menciptakan nilai, bukan hanya produk. Sinergi antara kreativitas manusia, empati sosial, dan kecerdasan buatan akan menjadi kekuatan utama pendidikan masa depan.


