Mengintegrasikan Koding dan Kecerdasan Artifisial: Transformasi Pembelajaran Abad ke-21

Oleh: Sylvana Novilia Sumarto
Di tengah derasnya arus Revolusi Industri 4.0 dan gagasan besar Masyarakat 5.0, dunia pendidikan dituntut untuk tidak sekadar mengejar perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan siswa menjadi subjek aktif dalam proses transformasi digital. Menjawab kebutuhan itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerbitkan Peraturan Mendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. Peraturan tersebut menginstruksikan sekolah untuk mengadakan mata pelajaran pilihan koding dan Kecerdasan Artifisial mulai tahun ajaran 2025/2026.
Sebagai langkah awal untuk mempersiapkan guru dalam mengajarkan materi koding dan kecerdasan artifisial tersebut, pemerintah pun menunjuk beberapa LPD (Lembaga Penyelenggara Diklat) untuk mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) secara bertahap. Untuk tahap ke-4, digelar pada 22–26 Juli 2025 di SMA Katolik St. Albertus (SMA DEMPO) Malang. Kegiatan ini dinahkodai oleh PT. Jully Tjindrawan Robotik, dengan menghadirkan empat fasilitator profesional bidang IT: Bapak Tubagus M Akhriza, Bapak Bagus Kristomoyo Kristanto, Ibu Syntia Widyayuningtias P.L, dan Ibu Meivi Kartikasari. Selama lima hari, mereka mendampingi para guru SMA dan SMK se-kota Malang untuk mendalami materi sekaligus mempraktikkan penerapan Koding dan Kecerdasan Artifisial di kelas.
Mengapa Koding dan Kecerdasan Artifisial Masuk Kurikulum?
Pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa koding dan kecerdasan artifisial harus diajarkan di sekolah menengah? Jawabannya sederhana, tetapi esensial. Kompetensi ini adalah kunci masa depan. Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial bukan sekadar menyiapkan siswa untuk profesi teknologi, melainkan membentuk literasi digital, pemikiran komputasional, dan etika teknologi. Siswa perlu belajar bagaimana komputer “berpikir”, bagaimana algoritma bekerja, hingga bagaimana kecerdasan artifisial memengaruhi aspek kehidupan sehari-hari.
Dengan penguasaan ini, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen gagasan dan inovasi. Mereka dilatih untuk berpikir kritis, berkolaborasi, serta mengembangkan kreativitas yang relevan dengan tantangan global.
Tujuan Pelatihan Guru di Malang
Bimtek di Malang memiliki tujuan spesifik: membekali guru SMA dan SMK agar mampu merancang pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial sesuai kondisi sekolah masing-masing.
Hal ini penting, mengingat tiap sekolah memiliki kesiapan berbeda. Ada sekolah dengan laboratorium komputer lengkap dan akses internet cepat, tetapi ada pula sekolah yang masih terbatas secara infrastruktur. Oleh karena itu, pelatihan ini tidak menekankan keseragaman teknis, melainkan fleksibilitas dan kontekstualisasi. Guru diajak merancang pembelajaran yang kreatif meski dengan sumber daya terbatas sehingga esensi koding dan kecerdasan artifisial tetap bisa dipahami siswa.
Tahapan Pelatihan: Dari Konsep hingga Praktik Nyata
Lima hari pelatihan dirancang dengan alur sistematis
– Hari 1 (22 Juli 2025): Pengenalan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial dalam Kurikulum Nasional. Guru memahami landasan filosofis, regulasi, dan urgensi mapel ini.
– Hari 2 (23 Juli 2025): Praktik pengoperasian perangkat Kecerdasan Artifisial. Guru mencoba berbagai aplikasi, mulai dari analisis data sederhana hingga penggunaan asisten digital.
– Hari 3 (24 Juli 2025): Rekayasa prompt untuk menghasilkan konten kreatif. Peserta bereksperimen menggunakan model generatif seperti ChatGPT dan DALL-E.
– Hari 4 (25 Juli 2025): Pemrograman Kecerdasan Artifisial dengan Python dan library populer. Guru diajarkan membuat proyek kecil seperti chatbot atau sistem klasifikasi sederhana.
– Hari 5 (26 Juli 2025): Modul pedagogi. Guru belajar merancang pembelajaran KKA menggunakan materi yang telah dibahas pada pertemuan di hari pertama hingga hari keempat kemudian mengujinya melalui peer teaching.
Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Fasilitator tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi rekan diskusi. Para guru, yang awalnya canggung dengan istilah teknis, perlahan berani bereksperimen dan bahkan saling berbagi strategi kreatif.
Momen Menarik: Aplikasi Kecerdasan Artifisial di Berbagai Bidang
Salah satu momen berkesan adalah ketika peserta diminta merancang alur pembelajaran. Seorang guru SMA bidang informatika merancang ide pembelajaran terkait enkripsi dan dekripsi kode. Sementara guru SMK bidang farmasi, mengusulkan penggunaan kecerdasan artifisial untuk membantu siswa membuat ide komposisi bahan pembuatan kosmetik.
Momen ini memperlihatkan bagaimana pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial dapat dilakukan untuk lintas disiplin. Koding dan kecerdasan artifisial menjadi jembatan yang menghubungkan sains, seni, bisnis, bahkan etika.
Relevansi dengan Kurikulum Nasional dan Kebutuhan Murid
Dengan menerapkan pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan ketika di kelas, diharapkan murid dapat:
– Melatih berpikir kritis saat mengevaluasi hasil keluaran kecerdasan artifisial.
– Mengembangkan kreativitas dengan merancang solusi digital yang inovatif.
– Belajar kolaborasi saat mengerjakan proyek lintas bidang.
– Memahami etika digital, termasuk keaslian karya dan potensi bias teknologi.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Bimtek ini hanyalah salah satu langkah awal dari perjalanan panjang integrasi teknologi dalam pendidikan Indonesia. Tantangan masih ada—dari keterbatasan infrastruktur, kebutuhan pelatihan berkelanjutan, hingga penyesuaian kurikulum sekolah. Namun semangat yang ditunjukkan para guru menunjukkan harapan besar.
Jika keberanian untuk mencoba terus dipupuk, maka dalam beberapa tahun ke depan, sekolah-sekolah Indonesia akan melahirkan generasi yang bukan hanya akrab dengan teknologi, tetapi juga bijak dan kreatif dalam menggunakannya.
Kesimpulan
Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial di Malang menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi bisa berjalan tanpa literasi teknologi. Melalui Bimtek intensif dari pemerintah dan LPD yang ditunjuk, telah membuka jalan menuju transformasi pembelajaran.
Pesan utamanya sederhana namun kuat: teknologi hanyalah alat, manusialah yang menentukan arah. Melalui pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial, sekolah diharapkan tidak hanya mencetak “pengguna teknologi”, tetapi pencipta inovasi untuk kemajuan bangsa.

Previous


