Empowering Educators in the Age of AI: Microsoft Elevate Teacher Convening 2025
Oleh: Sylvana Novilia Sumarto
Kegiatan Microsoft Elevate Teacher Convening yang diadakan pada Kamis, 9 Oktober 2025 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi era kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran digital. Acara ini berlangsung dari pukul 09.00–15.00 WIB, menghadirkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan industri teknologi, dengan fokus utama pada AI skills for educators dan transformasi digital sekolah di Indonesia.
Enam pembicara nasional dan praktisi pendidikan berbagi gagasan strategis dan praktik inovatif yang menandai arah baru pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan yang AI-empowered, human-centered, dan future-ready.
Fondasi Transformasi Digital Pendidikan
1. Dr. Taufiq Damarjati – Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar)
Dr. Taufiq membuka sesi dengan menekankan bahwa konten pembelajaran yang dihasilkan melalui AI tetap harus memiliki “nilai dan makna manusiawi”. Ia memperkenalkan platform Rumah Pendidikan di bawah Kemdikbud Ristek yang kini memiliki 42 modul ajar (10 di antaranya untuk SMA), serta memfasilitasi konten digital adaptif untuk mendukung kurikulum merdeka. Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) disebut sebagai suplemen yang memperkuat mata pelajaran Informatika, bertujuan membekali siswa dengan kemampuan dasar literasi digital, pemrograman, dan logika berpikir komputasional yang bermanfaat di dunia kerja. “AI bukan hanya untuk mereka yang mengambil jurusan Informatika,” tegasnya, “tetapi untuk semua yang ingin memahami dunia dan bekerja secara cerdas.”
2. Bapak Djumail – Staf Menteri Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial
Bapak Djumail membahas arah kebijakan nasional terkait pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang dapat diterapkan di berbagai sekolah sesuai dengan kesiapan masing-masing. Adapun beberapa kebijakan yang diambil dengan menjadikan KKA sebagai berikut.
– Mata pelajaran pilihan.
– Program ekstrakurikuler.
– Bagian yang terintegrasi dengan mapel Informatika.
Beliau menekankan pentingnya kesiapan sekolah dan guru dalam mengimplementasikan kebijakan ini, serta membuka peluang bagi kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan sektor swasta untuk mendukung pelatihan guru KKA. “Transformasi digital bukan hanya urusan perangkat, tetapi kesiapan ekosistem pembelajar yang kolaboratif,” ujarnya.
AI Skills dan Ekosistem Microsoft Elevate
3. Bapak Arif Suseno – AI Skills Director, Microsoft Elevate Indonesia
Dalam kesempatan ini, Bapak Arif meresmikan program Microsoft Elevate, program pelatihan AI gratis bagi guru dari berbagai jenjang (SD–SMA–SMK), termasuk kemitraan dengan pemerintah, lembaga nirlaba, dan institusi pendidikan.
Ia menjelaskan dua learning objectives.
– Level 1: Guru memahami konsep dasar dan praktik penggunaan AI dalam pembelajaran.
– Level 2: Guru mampu mengintegrasikan AI dan computational thinking secara kreatif ke dalam kelas.
Guru yang berpartisipasi dalam program ini berkesempatan memperoleh sertifikat internasional (AI-900) dan sertifikat kompetensi (AI-102) yang diakui secara global. Dalam praktiknya, AI seperti Microsoft Copilot dapat digunakan untuk membantu guru menyusun kegiatan belajar, menulis rubrik asesmen, dan merancang media pembelajaran.
Beberapa inovasi yang dipaparkan antara lain:
– Minecraft: hour of AI, versi offline untuk pengenalan dasar AI dan block-based coding,
– STEAM Coding & Esports, untuk melatih algoritma dan pemecahan masalah,
– GitHub Copilot untuk eksplorasi coding berbasis teks.
Program ini juga memberikan voucher MCE (Microsoft Certified Educator) gratis bagi 5.000 guru terbaik, serta kesempatan bagi 15 guru untuk berbagi kisah di kementerian dan 3 guru terbaik berkesempatan ke Microsoft Singapura.
Kolaborasi Industri dan Inovasi Pendidikan
4. Bapak Puja Pramudya – Paragon Corporation
Bapak Puja memaparkan bagaimana dunia industri berperan aktif dalam mendukung ekosistem pendidikan melalui program AI for Industry. Ia memperkenalkan tiga bidang besar riset dan pengembangan Paragon: AI, STG (Science Technology Growth), dan sektor Kesehatan. Penerapan machine learning di Paragon bahkan digunakan untuk mendeteksi pola produksi dan mendukung efisiensi manufaktur. Mengutip Salman Subakat, beliau menyampaikan, “Tidak ada putus asa dalam ikhtiar selama kita tahu why dan arah ikhtiarnya.” Ia menutup dengan refleksi: “Teknologi adalah hal terdekat dengan keajaiban (magic). AI akan menjadi utilitas layaknya listrik—mendukung manusia, bukan menggantikannya.”
5. Bapak Alim Anggono – Rektor Universitas Cakrawala, Co-Founder Dibimbing
Bapak Alim membahas isu kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak lulusan yang belum siap kerja karena kurang pengetahuan, kurang keterampilan, dan kurang pengalaman. Ia menekankan pentingnya brainstorming dan copywriting with AI, namun tetap dengan “sentuhan manusia” sebagai pengendali kualitas. Melalui program Cakrawala Prime Scholarship, mahasiswa diwajibkan magang di 100 perusahaan terbaik di Indonesia atau Asia Tenggara, serta dapat mengikuti program luar negeri dua bulan penuh beasiswa. Prinsipnya sederhana: learn fast, adapt fast, and stay human.
Kerangka AI Global dan UNESCO Framework
Selain paparan narasumber, peserta juga diperkenalkan pada UNESCO AI Framework dan pentingnya AI literacy yang berlandaskan etika dan kemanusiaan. Sertifikasi Microsoft Certified Educator (MCE) menjadi standar global bagi pendidik yang ingin menilai kompetensi mereka di bidang teknologi pembelajaran, dengan biaya resmi $62 USD, namun tersedia pula versi grant bagi peserta program Elevate.
Dua fitur utama yang diperkenalkan:
1. Copilot Enterprise, memungkinkan guru membuat AI agents secara spesifik, seperti:
– Prompt Coach,
– Research Agent, dan
– Design Agent.
2. Dukungan 116 bahasa dan kemampuan matematika untuk topik aljabar dan kalkulus menjadikan AI alat bantu pembelajaran lintas bidang yang inklusif.
Kesimpulan: Pendidikan sebagai Ruang Kolaborasi Manusia dan AI
Kegiatan Microsoft Elevate Teacher Convening 2025 memperlihatkan wajah baru pendidikan Indonesia—di mana guru bukan hanya penerima teknologi, tetapi arsitek transformasi digital. Dari kebijakan hingga praktik, dari laboratorium industri hingga ruang kelas, seluruh narasumber menegaskan bahwa masa depan pendidikan adalah kolaborasi antara empati manusia dan kecerdasan mesin.
Melalui Microsoft Elevate dan mitra nasional membuka jalan bagi para pendidik untuk:
– Mengembangkan kompetensi AI dan literasi digital,
– Menerapkan computational thinking dan coding,
– Dan membangun pembelajaran yang kreatif, adaptif, serta berdaya sosial tinggi.
Program ini bukan sekadar pelatihan, tetapi gerakan menuju pendidikan Indonesia yang berpikir kritis, berjiwa kolaboratif, dan berorientasi masa depan.


