Beyond the Bell

Oleh : Andi Yulianto
Di semua sekolah di seluruh dunia tentunya tidak asing dengan adanya bunyi yang selalu terdengar di sela-sela pembelajaran. Bunyi yang selalu menjadi tradisi turun-temurun tentunya akan selalu dijaga keberadaan dan mengikuti teknologi perkembangan zamannya, tetapi ada juga yang masih terjaga keorisinilannya, sehingga menjadi sebuah salah satu ciri khas dari sekolah itu. Sekolah adalah suatu lingkungan yang sangat diatur. Di sana, anak menjadi murid yang harus mengeksplorasi dari sudut pandang akademik sebelum dia mengeksplorasi di dunia luar sekolah. Beyond the bell menandakan juga tentang pengajaran bagaimana anak tersebut menerima instruksi untuk masuk atau keluar dalam sebuah pembelajaran dan melaksanakan kedisiplinan dalam realita kehidupan.
Jika kita melihat dari perspektif psikologi setelah siswa mendengar bel masuk kelas, kognitif siswa akan men-setting pikirannya untuk mempersiapkan menerima pelajaran-pelajaran sebagai asupan otak yang tentunya menambah bekal keilmuan di masa depan. Namun, ada juga siswa yang mendengar bel sekolah berbunyi, dalam pikirannya hanyalah stres dan takut menghadapi pelajaran yang dirasa sulit, atau guru yang mungkin menghukumnya karena sikap yang tidak disiplin dari dirinya sendiri. Beyond the bell bukan sekadar waktu luang, melainkan transisi mental dari dan/atau menuju kepatuhan suatu aturan.
Bel sekolah tidak hanya memberikan tanda untuk memasuki kelas masing-masing. Bel sekolah juga memberi tanda di mana siswa akan bersiap membuka gerbang menuju dunia yang penuh dengan tanda tanya dan misteri yang harus dipecahkan. Kondisi ini mewakili diri dan mentalitas dari jeratan kelelahan mental yang sering terjadi setelah berjam-jam menahan diri dan berkonsentrasi saat pembelajaran berlangsung. Di periode inilah, periode yang penting bagi pemulihan kondisi mental siswa. Selain itu, siswa memiliki ruang untuk membuat dan membentuk pikiran mandiri dan akhirnya menjadi pondasi utama bagi pembentukan identitas diri yang kuat.
Beyond the bell juga mengajarkan siswa untuk mencari titik-titik pertemanan dan persahabatan, di mana seorang siswa dituntut secara mental untuk membangun interaksi sosial, pertemanan, komunikasi dengan teman sebaya agar keterampilan interpersonal dan intrapersonal berjalan dengan seimbang. Selain itu, karakter siswa dilatih bagaimana cara mengendalikan emosi saat menghadapi orang lain hingga mampu membangun konsep diri resiliensi diri, citra diri, cita diri di hadapan orang lain dalam realita kehidupan. Beyond the bell juga menjadi jawaban atas kebosanan yang seringkali dihindari oleh orang tua modern pada umumnya. Ternyata, kebosanan adalah katalisator bagi kreativitas dan imajinasi, serta secara perlahan membangun pemikiran kritis (problem solving yang kreatif).
Pada akhirnya, beyond the bell adalah suatu masa di mana karakter, kreativitas, dan ketangguhan mental dibentuk. Dengan memberikan keseimbangan pola kognitif dan perilaku yang positif dan benar dalam diri dan sosial, kita membantu siswa tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk mental mereka menjadi mental yang tahan banting, penuh dengan daya juang, sehat, dan bahagia menuju masa depan yang cemerlang. Viva Dempo!


