Dari Siang hingga Senja: Cerita di Balik Malam Genitu 2025 Bertema “Sora Bhaja”

Oleh : Christian Ronaldo Sugiarta/XII-A.7/08 selaku Ketua Pelaksana dan Tabitha Aurielle Prita Larasati/XI-S.4/28 selaku Wakil Ketua Pelaksana
Ada kalanya sebuah nada tak hanya terdengar, tapi juga terasa mengalun lembut di hati, menyatukan jiwa-jiwa yang berbeda dalam satu irama kebersamaan. Begitulah suasana yang selalu tercipta setiap kali Malam Genitu tiba di SMA Katolik St. Albertus (DEMPO) Malang. Di tengah semangat muda yang membara, Dempoers kembali menorehkan kisah penuh warna lewat karya, tawa, dan harmoni yang lahir dari kebersamaan mereka.
Tahun ini, Malam Genitu hadir dengan tema “Sora Bhaja”, sebuah ungkapan indah yang menggambarkan keindahan nada yang mengalun harmonis, penuh warna, dan menyentuh jiwa. Dalam bahasa dan budaya Flores, “Sora” berarti suara atau nada, sedangkan “Bhaja” merujuk pada lagu atau nyanyian yang sarat makna dan emosi. Tema ini mengajak seluruh Dempoers untuk merasakan keselarasan antara suara alam, tradisi, dan jiwa manusia yang berpadu dalam satu harmoni.
Namun, ada yang berbeda pada Malam Genitu tahun ini. Sesuai namanya, acara ini biasanya digelar pada malam hari, di bawah cahaya lampu dan gemerlap bintang. Akan tetapi, Malam Genitu 2025 harus dilaksanakan pada siang hari. Hal ini disebabkan oleh situasi yang tidak terduga, pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan acara, terjadi kerusuhan yang sedang marak di kota Malang, sehingga pihak sekolah meminta seluruh Dempoers untuk pulang lebih awal demi keselamatan bersama. Meski begitu, semangat panitia dan Dempoers tak padam. Dengan segala keterbatasan dan penyesuaian mendadak, Malam Genitu tetap berlangsung dengan penuh semarak.
Malam Genitu tahun ini semakin istimewa karena adanya hiburan baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu wahana Rumah Hantu dengan tema “Misteri Sekolah Belanda”. Berkolaborasi dengan Excito Haunted House, salah satu organizer rumah hantu terkenal di Jawa Timur, wahana ini sukses menarik perhatian banyak Dempoers serta bapak/ibu guru dan karyawan. Konsepnya yang menggabungkan nuansa mistis dan sejarah menjadikannya pengalaman baru bagi Dempoers yang menegangkan namun seru.
Selain rumah hantu, panggung utama tetap menampilkan berbagai penampilan spektakuler dari siswa-siswi DEMPO. Mulai dari penampilan band, penampilan solo vocal, modern dance, teater, hingga pembacaan puisi oleh bapak/ibu guru, semuanya menjadi wujud nyata keberagaman bakat yang dimiliki para Dempoers. Di sela-sela acara, para Dempoers juga dapat menikmati aneka makanan dan minuman di stan stan Dempoers, yang tidak hanya menghidupkan suasana tetapi juga menjadi wadah pembelajaran berwirausaha bagi mereka.
Meski dijalankan di bawah tekanan waktu dan situasi yang tidak mudah, Malam Genitu 2025 tetap menjadi bukti nyata dedikasi dan kerja keras 131 panitia yang berjuang hingga acara dapat terlaksana dengan baik. Dari tangan-tangan mereka, sebuah acara yang sempat diragukan keberlangsungannya justru berhasil menghadirkan kenangan tak terlupakan bagi seluruh warga DEMPO.
Malam Genitu 2025 ditutup dengan acara lilin bersama, momen yang selalu penuh makna dan emosional bagi seluruh Dempoers. Di bawah langit sore yang mulai meredup, cahaya lilin kecil berpadu menciptakan suasana hangat dan reflektif. Setiap cahaya melambangkan harapan, semangat, dan keberanian untuk terus melangkah meski keadaan tak selalu sempurna. Di sinilah makna “Sora Bhaja” terasa nyata, harmoni yang lahir dari suara hati, dari keberanian untuk tetap bersinar di tengah tantangan.
Seperti makna dari “Sora Bhaja” itu sendiri, Malam Genitu 2025 mengajarkan bahwa harmoni tidak selalu hadir dalam kesempurnaan. Justru dalam keterbatasan, semangat, kreativitas, dan kebersamaan para Dempoers berpadu membentuk nada kehidupan yang indah—sebuah lagu perjuangan yang akan terus bergema dalam kenangan mereka. VIVA DEMPO!


