Upacara Bendera HUT RI-80: Menyatukan Asa dalam Alunan Musik Keroncong.

Oleh : Valerius Welove Khio Azayaka XI-A.4/29
Minggu, 17 Agustus 2025, menjadi hari yang paling membahagiakan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, pada hari tersebut, Bangsa Indonesia genap berumur 80 tahun. Perayaan ulang tahun Bangsa Indonesia tahun ini mengusung tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, SMA Katolik St. Albertus Malang juga turut berpartisipasi dalam merayakan hari yang spesial ini dengan mengadakan upacara bendera yang dipimpin oleh Br. Antonius Sumardi, O.Carm dengan Tim Paskibra DEMPO sebagai petugas utama. Melalui tema umum Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, Bruder menyampaikan bahwa seluruh peserta didik SMA Katolik St. Albertus Malang adalah pemegang tongkat estafet Bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Sebagai pemegang tongkat estafet menuju Indonesia Emas 2045, Bruder mengharapkan seluruh peserta didik SMA Katolik St. Albertus Malang dapat menjadi citra yang baik di mata masyarakat luas.
Tidak seperti upacara bendera pada umumnya, baju adat menjadi seragam utama yang dipakai para peserta didik pada hari itu. Baju adat yang dikenakan oleh para peserta didik berasal dari daerah yang bermacam-macam, dimana hal ini semakin memperkuat julukan SMA Katolik St. Albertus Malang sebagai “Indonesia Mini”.
Alunan musik keroncong yang dimainkan oleh Tim Kolintang DEMPO menjadi hal yang spesial pada upacara bendera kali ini. Alunan musik keroncong mengiringi upacara selama lagu Indonesia Pusaka dan 17 Agustus. Musik keroncong yang ada pada upacara bendera kali ini memberikan kesan yang menarik bagi para peserta upacara. Alunan musik keroncong juga menjadi penanda bahwa upacara bendera kali ini bukan merupakan upacara bendera biasa, melainkan sebuah upacara bendera yang sangat sakral dan khusus.
Upacara bendera kemudian ditutup dengan beberapa patah kata dari Pak Yosef yang kemudian diikuti dengan pembubaran peserta upacara dan pengembalian peserta upacara ke homeclass masing-masing. Setelah pembubaran peserta upacara, terlihat banyak siswa-siswi yang tinggal di lapangan untuk berfoto dan berinteraksi dengan teman-teman mereka. Tak sedikit pula siswa/i yang memilih untuk pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka untuk bersenang-senang.
Upacara yang diadakan pada hari minggu, tidak sedikitpun memadamkan api semangat para peserta didik untuk datang ke sekolah dan mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Hal ini menjadi penegas bahwa nasionalisme di kalangan peserta didik SMA Katolik St. Albertus Malang tidak sedikitpun pudar. Hal ini menjadi langkah awal yang sangat bagus dalam mempersiapkan para peserta didik untuk menerima dan meneruskan tongkat estafet menuju Indonesia Emas 2045. Dengan begini, generasi-generasi pendahulu, tidak perlu takut dalam menyerahkan tongkat estafet Bangsa Indonesia ke generasi-generasi muda.
Next


