EMPAT PRINSIP BERLIAN DALAM CLASSROOM MANAGEMENT OLEH SIGIT SETYAWAN

Oleh : Trya Polyta Limbong
Mengelola kelas bukan sekadar membuat suasana tenang. Kunci keberhasilan classroom management ada pada sejauh mana siswa benar-benar belajar dengan efektif. Menurut Sigit Setyawan, ada empat prinsip berlian yang dapat menjadi pegangan guru dalam menciptakan proses belajar yang bermakna.
Sigit Setyawan, seorang praktisi pendidikan, menegaskan bahwa guru membutuhkan strategi yang terstruktur sekaligus humanis. Kelas yang tampak tenang bukan jaminan pembelajaran berjalan optimal. Bisa saja siswa duduk diam, tetapi tidak memahami materi. Sebaliknya, kelas yang ramai justru bisa menunjukkan proses belajar aktif dan capaian tinggi. Inilah mengapa pengelolaan kelas harus berorientasi pada pembelajaran, bukan sekadar ketertiban semu.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Sigit memperkenalkan empat prinsip berlian—strategi yang dapat menjadi pegangan guru dalam mengelola kelas.
1. Peraturan dan Prosedur: aturan yang jelas, sederhana, dan konsisten membuat siswa tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya: menghormati guru, berani bertanya, atau bekerja sama dengan teman. Prosedur teknis juga perlu diperhatikan, seperti cara masuk kelas, meminta izin, hingga menutup pelajaran. Jika diterapkan dengan konsisten, aturan akan menjadi bagian dari budaya kelas, bukan sekadar perintah.
2. Pembiasaan (Routines): aturan hanya akan efektif bila dibiasakan. Guru perlu melatih siswa secara berulang—misalnya merapikan meja, mengangkat tangan sebelum bicara, atau menyelesaikan tugas tepat waktu. Rutinitas yang konsisten membuat kelas lebih kondusif, mengurangi konflik kecil, dan memberi ruang bagi siswa untuk belajar tanpa gangguan.
3. Penguatan (Reinforcement): penguatan penting agar siswa memahami konsekuensi dari perilakunya. Bentuknya bisa positif—seperti pujian tulus, permainan, atau keringanan tugas—yang memotivasi siswa untuk mengulangi perilaku baik. Ada juga penguatan negatif berupa koreksi, teguran, atau konsekuensi disiplin. Namun, tujuannya bukan menghukum, melainkan menanamkan tanggung jawab. Keseimbangan antara pujian dan koreksi menjadikan aturan lebih bermakna.
4. Pengenalan Pribadi (Relationship): hubungan personal antara guru dan siswa adalah fondasi yang memperkuat aturan. Siswa patuh bukan hanya karena takut hukuman, tetapi karena menghormati gurunya. Guru yang mau mendengarkan, memberi teladan, dan hadir sebagai mentor akan lebih dihargai. Namun, kedekatan tetap harus dijaga dalam batas profesional. Hubungan ini menciptakan suasana saling percaya, sehingga aturan bukan lagi paksaan, melainkan kesepakatan bersama.
Sigit juga merujuk pada teori The Conditions of Learning dari Robert Gagné yang memuat sembilan peristiwa belajar. Untuk memudahkan, ia merangkumnya menjadi tiga tahap utama yakni sebagai berikut.
1. Readiness (Kesiapan) – Tidak semua siswa datang ke kelas dengan kondisi siap belajar. Guru berperan menyiapkan kesiapan psikologis, fisik, dan lingkungan agar pembelajaran berjalan efektif.
2. Learning Process (Proses Belajar) – Guru memilih metode yang sesuai, mulai dari cooperative learning, gamification, project-based learning, diskusi, hingga latihan soal.
3. Development (Pengembangan/Asesmen) – Capaian siswa diukur melalui asesmen untuk memastikan ilmu dan keterampilan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Melalui kerangka ini, guru didorong untuk fokus pada hasil belajar siswa, bukan hanya tampilan luar kelas. Meski prinsip ini sederhana, praktiknya tidak selalu mudah. Survei Kementerian Pendidikan (2022) menunjukkan bahwa 98% guru di Indonesia masih perlu meningkatkan manajemen kelas. Banyak guru masih mengandalkan aturan tertulis tanpa konsistensi, atau terlalu menekankan ketertiban tanpa memperhatikan efektivitas belajar.
Sigit mengingatkan bahwa setiap sekolah memiliki core values berbeda. Oleh karena itu, penguatan, aturan, dan konsekuensi harus disesuaikan dengan budaya sekolah. Untuk anak berkebutuhan khusus, strategi khusus juga perlu dirancang, sebab aturan umum tidak selalu relevan. Guru perlu fleksibel, kreatif, dan bekerja sama dalam komunitas untuk menemukan praktik terbaik.
Classroom management bukan hanya sekadar menertibkan kelas, melainkan seni dan strategi membangun suasana belajar yang efektif, menyenangkan, dan bermakna. Dengan memadukan aturan yang jelas, rutinitas yang terlatih, penguatan yang mendidik, serta hubungan personal yang hangat, guru dapat mengasah “berlian” sejati di kelas: yaitu para siswanya.
Kelas yang berhasil bukanlah yang sunyi, melainkan kelas yang penuh interaksi, tanya jawab, kerja sama, dan semangat belajar. Dari sanalah, akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas, melainkan berkarakter.

Previous
Bimbingan Teknis: Penguatan Pendidikan Unggul Literasi, Numerasi, Sains dan Teknologi Pendidikan
Next


