Seminar “Public Speaking dan Complaint Handling”
Oleh: Yosi Founisce Putri
Seminar pelatihan dengan judul “Public Speaking dan Complaint Handling” sukses diselenggarakan di Malang Creative Center. Acara ini berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 15.00 dan dipandu oleh Ns. Ari Pristiana Dewi, M.Kep, CMT, CEO Kita Center (Education and Training Center) yang juga merupakan seorang praktisi dan pelatih komunikasi berpengalaman.
Mengupas Seni Public Speaking
Dalam sesi pertama, Ns. Ari Pristiana Dewi menekankan bahwa public speaking bukan hanya sekadar berbicara di depan orang banyak, melainkan sebuah seni dan aksi yang efektif. Sesuai dengan pengertian yang ada pada American Heritage Dictionary, di mana Public Speaking adalah the act, art, or process of making effective speeches before an audience.
Seni komunikasi yang baik mampu menciptakan vibe positif yang dapat memengaruhi audiens. Hal ini dapat dimulai dengan senyuman. Memberikan senyuman kepada orang lain bukan hanya tentang keramahan, melainkan tentang ketulusan dan perhatian, sehingga audiens akan merasa berharga dan layak mendapat yang terbaik dari diri kita.
Berikutnya, aksi komunikasi harus dilakukan dengan menghindari gesture-gesture yang salah seperti gerakan tangan berlebihan, kontak mata yang tidak konsisten, atau cara berdiri yang tidak tepat.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa efektivitas komunikasi dapat ditingkatkan dengan berbagai latihan, seperti
1. latihan artikulasi, untuk mengucapkan kata dengan jelas;
2. latihan memenggal kata di tempat yang tepat dalam kalimat;
3. menggunakan intonasi yang sesuai untuk memberikan penekanan pada pesan penting.
Dalam sesi ini, beberapa perwakilan peserta juga diminta untuk mempraktikkan cara berbicara di depan umum yang baik dengan memperhatikan poin-poin yang telah disampaikan sebelumnya.
Menurut Ns. Ari, tantangan terbesar dalam public speaking sering kali adalah penggunaan filler word (seperti “eh“, “uh“, “hmm“) yang membuat pesan terkesan kurang profesional. Selain itu, ketidakpercayaan diri sering kali membuat pembicara merasa grogi. Untuk mengatasinya, peserta diajak memahami bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada kata-kata.
Hal ini karena sebenarnya komunikasi terdiri dari
– 7% verbal (kata-kata yang diucapkan);
– 38% vocal (intonasi, nada suara);
– 55% visual (gestur, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh).
Hal ini membuat audiens ternyata lebih memperhatikan visual daripada kata-kata yang diucapkan. Maka, penting bagi pembicara untuk menyelaraskan tiga kunci komunikasi di atas, sehingga pesan kepada audiens tersampaikan dengan baik.
Strategi Menghadapi Komplain
Sesi kedua berfokus pada Complaint Handling. Ns. Ari menjelaskan bahwa ada tiga tahapan utama yang harus dilakukan dalam menghadapi komplain
1. mengatasi emosi pribadi terlebih dahulu. Jangan terbawa emosi, karena emosi negatif dapat memperburuk situasi;
2. menyelesaikan masalah dengan solusi yang konkret;
3. mendapatkan kepercayaan kembali dari pihak yang memberikan komplain.
Peserta juga diajak memahami pentingnya mengubah sudut pandang saat menghadapi komplain. Dengan memiliki cara pandang yang lebih baik, setiap situasi dapat menjadi peluang untuk belajar dan berkembang. Pendekatan ini dikenal sebagai growth mindset yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran.
Menurut Ns. Ari, untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, semua elemen dalam organisasi mulai dari pimpinan, pegawai, hingga sarana prasarana—harus memiliki growth mindset yang sama. Dengan demikian, pelayanan kepada pelanggan akan terus berkembang ke arah yang lebih baik.
Antusiasme Peserta
Seminar ini mendapat sambutan antusias dari peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, profesional, hingga pengusaha. Para peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga terinspirasi untuk mempraktikkan keterampilan public speaking dan complaint handling di kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja.
Dengan suksesnya pelatihan ini, diharapkan peserta mampu menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh untuk menciptakan komunikasi yang lebih efektif, menghadapi komplain dengan bijaksana, dan terus mengembangkan diri menuju kesuksesan.
Dan khususnya, bagi pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah, seminar ini menjadi salah satu pengalaman dan penambah ilmu serta keterampilan baru untuk melaksanakan tugas dan pelayanan yang lebih baik.


