The Transformation of Youth in the Digital Era: Between Entertainment and Spiritual Growth

Oleh : Maria Sita Putri Kunnaryo (G11)
Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang adalah lembaga pendidikan tinggi Katolik yang berfokus pada bidang filsafat dan teologi. Perguruan tinggi ini berada di bawah naungan Kongregasi Misionaris Imam-Imam SVD (Societas Verbi Divini). Tujuan utama STFT Widya Sasana adalah membentuk calon pemimpin Gereja dan masyarakat yang memiliki kematangan intelektual, moral, dan spiritual. Untuk mendukung tujuan tersebut, STFT secara aktif menerbitkan jurnal akademik berjudul “Melintas”, yang menjadi wadah pengembangan pemikiran filsafat dan teologi di Indonesia. Selain itu, STFT juga rutin menyelenggarakan seminar nasional maupun internasional serta konferensi ilmiah yang menjadi ruang dialog akademik lintas disiplin. Salah satu kegiatan tersebut adalah Seminar Nasional Hari Studi ke-50, dengan tema “Sibuk Scroll atau Grow? Kaum Muda vis-à-vis Dunia Digital.”
Seminar ini mengangkat tema yang menggambarkan dua arah pilihan hidup generasi muda di era digital. “Sibuk Scroll” mencerminkan gaya hidup yang dihabiskan untuk mengonsumsi konten digital tanpa refleksi, sekadar mengikuti arus tren dan pencarian validasi sosial. Sebaliknya, “Grow” menggambarkan pilihan hidup untuk menggunakan teknologi sebagai sarana belajar, bertumbuh, dan memperdalam relasi dengan sesama maupun dengan Tuhan. Acara ini menghadirkan lima narasumber, yakni Romo Yohanes I. Wayan Marianta, SVD; Romo Dimas Satyawardhana, M.Hum., Lic. Psi., beserta tim; Dr. Ermida Listayani Simanjuntak, M.Sc., M.Psi.; Romo Benny Suwito; dan Romo Kurniawan Dwi Madyo Utomo, CM. Kelima narasumber tersebut membawakan materi dalam tiga sesi utama yang diakhiri dengan sesi diskusi pleno.
Pada sesi pertama, Romo Wayan membahas kondisi dan karakteristik Generasi Z di masa kini, khususnya di Indonesia. Sesi tersebut dilanjutkan dengan Romo Dimas dan tim dalam bentuk talkshow yang mengulas pandangan Generasi Z terhadap dunia digital. Sesi kedua menghadirkan Dr. Ermida dan Romo Benny. Dr. Ermida membahas fenomena digital dari sudut pandang psikologi, sementara Romo Benny melengkapinya dengan perspektif teologi. Sesi terakhir dibawakan oleh Romo Kurniawan yang mengangkat topik mengenai iman di era digital. Acara kemudian ditutup dengan diskusi pleno, di mana seluruh pembicara kembali ke panggung untuk menjawab berbagai pertanyaan peserta secara mendalam dan reflektif.
Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh pemahaman baru bahwa dunia digital merupakan medan baru bagi perkembangan manusia modern, khususnya bagi kaum muda. Teknologi dapat menjadi alat pertumbuhan jika digunakan untuk membangun nilai, ilmu, dan iman. Namun, apabila disalahgunakan, dunia digital dapat menjadi jebakan distraksi yang melemahkan jati diri dan makna hidup manusia. Seminar ini berhasil mengajak peserta untuk lebih sadar, reflektif, dan kritis terhadap cara mereka berinteraksi dengan dunia digital. Diharapkan kesadaran tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui penggunaan teknologi yang bijak, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kebaikan.
Kesimpulan :
Seminar Nasional Hari Studi ke-50 STFT Widya Sasana Malang dengan tema “Sibuk Scroll atau Grow? Kaum Muda vis-à-vis Dunia Digital” berhasil menggugah kesadaran kaum muda untuk lebih bijak dalam memaknai kehadiran teknologi di kehidupan sehari-hari. Dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga sarana pertumbuhan intelektual dan spiritual apabila digunakan dengan reflektif dan bertanggung jawab. Melalui berbagai sudut pandang—filsafat, teologi, psikologi hingga iman—seminar ini menegaskan bahwa transformasi kaum muda di era digital bergantung pada kemampuan mereka menyeimbangkan kebutuhan hiburan dengan dorongan untuk terus bertumbuh dalam iman, nilai, dan karakter.


