“Redeeming Affection, Cognition, and Volition”

Oleh: Yodha Riz Suastinar Elizabeth (G04)
Dalam bahasa Indonesia, “redeeming affection, cognition, and volition” memiliki arti memulihkan, menebus, atau memperbaiki afeksi (perasaan), kognisi (pikiran), dan volisi (kehendak). Konsep ini merujuk pada proses transformasi dan pemulihan aspek-aspek fundamental dari keberadaan manusia. Ide ini sering muncul dalam pembahasan teologi, filosofi, dan psikologi, khususnya ketika berbicara tentang kerusakan, dosa, atau disfungsi manusia, serta potensi untuk pembaharuan atau penyembuhan.
Afeksi (perasaan), kognisi (pikiran), dan volisi (kehendak) adalah pilar utama yang membentuk siapa diri kita, bagaimana kita bertindak, dan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, bahkan dengan Tuhan. Dalam perjalanan hidup, seringkali ketiga aspek ini bisa “rusak” atau “tercemar.” Artikel ini akan membahas bagaimana kita bisa memulihkan kembali ketiga hal tersebut agar hidup kita lebih utuh dan sesuai dengan tujuan awal penciptaan kita.
– Afeksi yang Ditebus: Mengasihi yang Layak Dikasihi
Afeksi itu tentang perasaan, keinginan, dan kecenderungan hati kita. Seringkali, hati kita cenderung mencintai hal-hal duniawi, diri sendiri, atau hal-hal yang tidak kekal. Perasaan seperti cinta, takut, marah, atau sukacita kadang tidak lagi tertuju pada hal yang benar atau baik menurut standar yang lebih tinggi.
Pemulihan afeksi berarti hati kita diperbaiki. Ini membuat kita bisa mengasihi Tuhan di atas segalanya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kasih yang sejati berpusat pada Tuhan. Proses ini mengubah perasaan yang tidak benar menjadi perasaan yang baik, membenci dosa daripada mencintainya, dan lebih mencintai kehendak Tuhan daripada hal-hal duniawi.
Afeksi mencakup perasaan, keinginan, dan kecenderungan hati. Dalam kondisi jatuh, hati manusia cenderung mengasihi dunia, diri sendiri, dan hal-hal yang fana. Perasaan cinta, takut, marah, dan sukacita seringkali tidak lagi tertuju pada hal-hal yang benar dan baik menurut Allah. Penebusan afeksi berarti hati manusia dipulihkan sehingga kembali mengasihi Allah di atas segalanya dan sesama seperti diri sendiri. Kasih yang sejati adalah kasih yang terarah dan terpusat kepada Allah. Roh Kudus bekerja dalam hati orang percaya untuk mengubah afeksi yang berdosa menjadi afeksi yang kudus, dari mencintai dosa menjadi membenci dosa, dari mencintai dunia menjadi mencintai firman dan kehendak Allah.
– Kognisi yang Ditebus: Berpikir dengan Pikiran Kristus
Kognisi berhubungan dengan akal budi, pemahaman, dan cara kita berpikir. Terkadang, pikiran manusia bisa menjadi “gelap,” menyimpang dari kebenaran, dan sulit memahami hal-hal yang bersifat rohani. Dunia sering mengajarkan pandangan yang relatif dan membuat bingung tentang moralitas, atau ideologi yang bertentangan dengan kebaikan.
Pemulihan kognisi terjadi saat pikiran kita diperbarui. Ini sering disebut sebagai “pembaharuan pikiran.” Kita diajak untuk memiliki “pikiran Kristus,” yang berarti cara pandang dan hikmat yang berdasarkan kebenaran ilahi. Dengan begitu, kemampuan berpikir kita bisa digunakan untuk kemuliaan Tuhan, mengejar kebenaran, dan membedakan mana yang baik dan jahat.
Kognisi menyangkut akal budi, pengertian, dan proses berpikir. Setelah kejatuhan, pikiran manusia menjadi gelap, menyimpang dari kebenaran, dan tidak mampu memahami hal-hal rohani. Dunia mengajarkan relativisme, kebingungan moral, dan ideologi yang bertentangan dengan kehendak Allah. Penebusan kognisi terjadi saat pikiran manusia diperbarui melalui firman Tuhan. Proses ini disebut renewing of the mind. Orang percaya dipanggil untuk mengenakan pikiran Kristus. Hal itu merupakan cara pandang dan hikmat yang berdasarkan kebenaran ilahi. Dengan demikian, kemampuan berpikir digunakan untuk memuliakan Tuhan, mengejar kebenaran, dan membedakan yang baik dari yang jahat.
– Volisi yang Ditebus: Memilih dan Tunduk pada Kehendak Allah
Volisi adalah kehendak dan kemampuan untuk memilih dan mengambil keputusan. Dalam dosa, kehendak manusia tidak netral melainkan condong pada pemberontakan terhadap Allah. Bahkan pilihan-pilihan yang tampak “baik” secara moral pun dapat dilakukan dengan motivasi yang egois. Namun, melalui karya penebusan Kristus dan karya Roh Kudus, kehendak manusia dimampukan untuk memilih ketaatan kepada Allah. Volisi yang ditebus adalah kehendak yang rela tunduk dan bersukacita dalam melakukan kehendak Allah. Contohnya, seperti yang diteladankan oleh Kristus sendiri di taman Getsemani: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.”
Afeksi, kognisi, dan volisi bukanlah bagian-bagian yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang bekerja dalam diri kita. Ketika ketiganya dipulihkan, seluruh keberadaan kita pikiran, perasaan, dan kehendak akan dipulihkan untuk beribadah dan melayani dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Penting untuk diingat, pemulihan ini bukanlah hasil usaha kita sendiri, melainkan hasil karya Tuhan. Oleh karena itu, kita diajak untuk terus hidup dalam pertobatan, menyerahkan seluruh aspek hidup kita kepada Tuhan, dan membiarkan-Nya terus bekerja dalam proses penyucian diri kita.
Inilah jalan menuju kebebasan sejati: ketika hati, pikiran, dan kehendak kita kembali diarahkan kepada Sang Pencipta. Seperti kata Lord George Byron, “Awal dari penebusan adalah perasaan akan kebutuhannya.”



