Rekayasa Prompt untuk Kreasi Konten: Mewujudkan Pembelajaran Kreatif Berbasis AI
Oleh: Sylvana Novilia Sumarto
Setelah melalui tahap pertama yang berfokus pada penguasaan konsep dan praktik dasar Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), kegiatan tahap kedua menjadi ajang bagi para guru untuk mengimplementasikan hasil pelatihan secara langsung di kelas. Pada sesi ini, peserta tidak hanya mengajar, tetapi juga membuka ruang bagi kolaborasi dan refleksi melalui kegiatan open class bertema “Rekayasa Prompt untuk Kreasi Konten.”
Dari Real Teaching Menuju Open Class
Tahap kedua dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada Kamis, 21 Agustus 2025 dan dilanjutkan pada Rabu-Kamis, 17–18 September 2026 di SMA Katolik St. Albertus (SMA DEMPO) Malang. Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari sesi sebelumnya yang menekankan pada proses pengenalan AI serta bagaimana merancang kegiatan pembelajaran deep learning pada Koding dan Kecerdasan Artifisial. Pada sesi ini, fokus bergeser ke arah pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk menciptakan konten digital yang kreatif dan edukatif, terutama melalui keterampilan merancang prompt yang efektif.
Rekayasa prompt merupakan kemampuan untuk menginstruksikan sistem AI generatif, seperti ChatGPT atau DALL-E agar menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan pengguna. Dalam konteks pendidikan, kemampuan ini tidak hanya membantu guru membuat media ajar yang inovatif, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan pemikiran kritis pada siswa.
Membangun Kreativitas di Kelas X-11
Dalam pelaksanaan open class di kelas X-11 SMA Katolik St. Albertus pada hari Kamis, 28 Agustus 2025, saya mengajak siswa untuk mengeksplorasi konsep prompt dengan kegiatan yang menyenangkan dan kolaboratif. Siswa diminta menciptakan gambar kreatif dengan bantuan AI. Temanya bebas, sesuai dengan keinginan siswa masing-masing. Setiap siswa diminta untuk memulai dengan merancang prompt yang jelas, spesifik, dan bernuansa etis. Mereka kemudian menguji hasilnya menggunakan model AI generatif, mendiskusikan kelebihan dan kekurangannya, serta merevisi prompt untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Kemudian, mereka diminta untuk menganalisis reasoning dari masing-masing prompt yang mereka berikan. Di akhir, mereka diminta membuat penilaian terhadap hasil yang diberikan oleh AI.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang cara kerja AI, tetapi juga memahami peran manusia sebagai pengendali utama teknologi. Suasana kelas terasa hidup dan penuh rasa ingin tahu. Siswa antusias bereksperimen dengan berbagai gaya prompt dan berdebat santai mengenai hasil keluaran yang paling relevan dan bermakna.
Kolaborasi dan Refleksi Antarpeserta
Saya juga berkesempatan menjadi observer pada kegiatan open class Ibu Rosidatul Maghfiroh di SMKN 13 Malang pada Senin, 8 September 2025. Dari pengalaman ini, terlihat bahwa setiap guru membawa karakter unik dalam mengimplementasikan pembelajaran KKA sesuai konteks sekolahnya masing-masing—ada yang menekankan aspek kreatif, ada yang menyoroti aspek etis, dan ada pula yang menggabungkannya dengan mata pelajaran produktif.
Kegiatan refleksi dilanjutkan dengan unggah dokumentasi dan lembar observasi pada 9 September 2025 menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sekolah dan lintas jenjang. Diskusi yang hangat antar peserta menegaskan bahwa open class bukan sekadar ajang demonstrasi mengajar, melainkan wadah pembelajaran kolektif bagi para pendidik.
Menghidupkan Spirit Transformasi Digital di Sekolah
Sesi kedua pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial ini menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pendidikan tidak hanya tentang alat dan teknologi, tetapi juga tentang pola pikir baru dalam mengajar dan belajar. Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator yang menumbuhkan kreativitas, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Dengan kemampuan rekayasa prompt, guru dan siswa dapat bekerja sama menciptakan konten pembelajaran yang relevan dan inspiratif. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan abad ke-21: mengembangkan manusia yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan berinovasi di tengah perubahan teknologi yang pesat.
Penutup
Melalui kegiatan open class bertema “Rekayasa Prompt untuk Kreasi Konten”, para guru peserta pelatihan KKA membuktikan bahwa teknologi dapat diintegrasikan secara kontekstual dan bermakna. Tantangan terbesar bukan hanya pada kemampuan teknis, melainkan pada kemauan untuk terus belajar dan berinovasi.
Dengan semangat kolaborasi yang tinggi, para guru diharapkan dapat menularkan semangat pembelajaran berbasis AI ini ke lingkungan sekolah masing-masing, sehingga pendidikan Indonesia semakin siap menyongsong era digital dengan karakter, kreativitas, dan kecerdasan yang seimbang.


