Mengenang Sang Bangsawan, Pejuang Emansipasi

Oleh : Reimond Ajnata/ X-10 / 29 (Jurnalistik)

Selasa 21 April 2026, siswa SMA Katolik St. Albertus Malang memakai pakaian adat ke sekolah. Bukan tanpa alasan, mereka akan mengikuti upacara dalam rangka memperingati hari Kartini. Warna-warni yang meramaikan acara ini juga melambangkan kekayaan budaya Indonesia. Suasana khidmat tampak memenuhi lapangan saat pembina memasuki lapangan. Tepat 147 tahun sudah, Kartini dikenang sebagai pahlawan emansispasi.
Pembina upacara dalam rangka memperingati hari Kartini, Selasa kemarin yaitu Ibu Dewi Lestari. Beliau berpesan bahwa, RA Kartini hadir bukan sebagai seorang bangsawan ataupun cry-baby. Namun Beliau menambahkan menjadi teladan bagi masyarakat dari berbagai lintas generasi. Walaupun Kartini lahir penuh dengan kemudahan, RA Kartini tidak memilih menjadi seorang pemalas. Ia membawa obor emansipasi wanita seperti ikan yang melawan arus, dirinya justru melawan patriarki dan memperjuangkan kebebasan para perempuan. Tak hanya itu, Guru yang juga alumni SMA Dempo menceritakan sepenggal kisah hidup pahlawan wanita tersebut. Kartini Jepara hanya menuntaskan pendidikan hingga umur 15 tahun. Setelah itu, ia harus menerima pingitan sampai berusia 24 tahun. Selama terkekang oleh dinding rumah, ia berkorespondensi dengan temannya di Belanda. Melalui suratnya, ia mengenal dunia luar, di mana perempuan dan laki-laki mendapatkan hak yang sama. Semangat membara itulah yang diteruskan kepada anak-anak Indonesia, termasuk kita,” ujar Bu Dewi.
Di akhir Amanat upacara, pembina upacara menegaskan pesan penting. “Teruskan perjuangan Beliau. Kalau dulu yang menjadi musuh adalah penjajah dan diskriminasi, sekarang kemalasan dan gempuran teknologi. Syukuri kesempatan meneguk pendidikan, dan jadilah remaja inspiratif!”, ujar Bu Dewi disambut riuh tepuk tangan.
Meskipun berbaris di bawah terik matahari, Dempoers tampak antusias mengikuti upacara hingga akhir. Setelah selesai amanat upacara mereka menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” dan “Mars Dempo”. Kemudian dilanjutkan dengan berdoa untuk kemajuan bangsa.
Amanat upacara tersebut direspon positif oleh para Dempoers. Hal ini ditunjukkan dari jawaban mereka ketika ditanya sosok seperti apakah Kartini Muda menurut Dempoers? Dengan ekspresi antusias mereka menjawab, “Percaya diri! Sosok yang berani untuk maju. Saya ingin membuktikan bahwa wanita juga bisa sukses di jalannya,“ ujar Acel siswa kelas X3. Tidak hanya itu Eugene siswa kelas (X-3) juga menegaskan bahwa remaja wanita yang memiliki jiwa Kartini justru memiliki ketekunan, “Wanita Kartini masa kini memiliki tekad kuat, tidak mudah terintimidasi oleh kekuatan laki-laki, dan dapat memprioritaskan pendidikan daripada cinta.” Tak ketinggalan juga, Jordan siswa kelas (X-5) ikut menimpali, “Kartini muda harusnya memiliki keberanian dalam menyuarakan pendapatnya, tidak hanya fokus pada penampilan luar, tapi juga kecerdasan dan kepedulian.” Meskipun sederhana, perayaan mengenang jasa Kartini terbukti dapat membangun sikap positif siswa-siswi. Viva Dempo!



