Menulislah Seperti Orang Gila!
Oleh : Yohana Soegiarty Gelu Keraf
Menulis, kok, harus seperti orang gila? Bukankah untuk merangkai kata-kata dibutuhkan skemata, kreativitas ide, dan keterampilan mumpuni? Atau jangan-jangan, kalimat itu hanyalah ungkapan “prank” untuk menghibur para pemikir yang buntu dan berhenti menulis di tengah jalan?
Jawabannya, bisa ditemukan dalam Workshop Pentigraf yang dilaksanakan oleh Karmelindo pada Sabtu, 7 Juni 2025 di Toko Karmelindo Jalan Tumenggung No. 110-A. Workshop ini merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian HUT Karmelindo yang akan mencapai puncaknya pada 27 Juli 2025. Tak heran, tepat pada pukul 09.00 WIB, peserta yang datang tampak antusias. Panitia pun tersenyum hangat menyambut kedatangan para peserta lalu mengarahkan ke ruangan. Peserta yang hadir juga berasal dari berbagai usia dan profesi.
Sebelum menjelaskan materi, Wahyu Kris, selaku narasumber melemparkan dua pertanyaan kepada peserta: mengapa toilet umum sering bau? Mengapa banyak keributan di tempat parkir? Jawaban yang diberikan pun beragam, “Karena toilet adalah fasilitas publik.” Ada pula peserta yang menjelaskan bahwa di tempat parkir, tentu terjadi interaksi antara si penjaga parkir dan pengunjung.
Menanggapi hal tersebut, narasumber tampak tersenyum lalu menegaskan bahwa interpretasi setiap orang dapat berbeda tergantung pada pengalaman, penalaran, dan kreativitas. Begitu juga dalam menulis. Sebelum menulis pentigraf, kita perlu membuka diri terhadap berbagai kemungkinan. Jangan terburu-buru memasang stigma benar atau salah bahkan terhadap karya sendiri!
Nah, sesuai dengan topik workshop, “Menulis Pentigraf”, kurang lengkap rasanya kalau tidak mengetahui siapa penggagasnya. Pentigraf atau cerpen tiga paragraf pertama kali dicetuskan oleh Prof. Tengsoe Tjahjono pada 1981. Ia dikenal sebagai Guru Besar UNESA. Selain itu, ia juga mendedikasikan diri sebagai pengajar di Hankuk University, Korea Selatan.
Meski terpaut 44 tahun, buah pemikiran Tengsoe Tjahjono tentang pentigraf masih sangat relate dengan tantangan dan kondisi masa kini. Mengapa? Faktanya, siswa-siswi membutuhkan banyak waktu dalam menulis cerpen. Di lain pihak, guru harus jeli dan terampil mendesain pembelajaran dengan banyaknya capaian pembelajaran. Selain itu, arus teknologi semakin membawa pendidikan ke arah digitalisasi bahkan menguat sejak era Covid-19. Perubahan ini mendorong guru dan siswa untuk mengakses informasi maupun membagikan karya dengan mudah di berbagai platform digital. Fenomena ini juga semakin diperkuat dengan munculnya AI (Artificial Intelegent) yang menawarkan efisiensi dan otomatisasi tetapi rawan terhadap perilaku menyontek.
Menilik penjelasan di atas, pentigraf membawa angin segar bagi dunia kepenulisan. Hal itu dikarenakan pentigraf dapat menjadi wadah banyak orang untuk menuangkan kekreativitasannya. Pentigraf juga menjembatani celah antara tuntutan kurikulum, keterbatasan waktu, dan proses kreatif. Bahkan, lahirnya pentigraf justru membudayakan perilaku jujur dalam menulis cerpen karena dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat.
Pentigraf memiliki beberapa ciri. Pentigraf berbentuk cerpen yang terdiri atas tiga paragraf. Pada teks pentigraf, terdapat 210 sampai 250 kata. Karena cakupan ruangnya semakin sempit, pentigraf harus disusun dengan satu gagasan yang menjadi fondasi setiap paragraf. Tidak hanya itu, dalam pentigraf juga hanya disajikan sedikit dialog dan difokuskan pada konflik, dengan plot twist pada paragraf ketiga. Uniknya, walaupun memiliki keterbatasan, pentigraf tetap memenuhi prinsip Dulce dan Utile, bersifat menghibur sekaligus menerapkan unsur intrinsik dan nilai kehidupan.
Konflik yang bisa ditulis dalam teks pentigraf juga bermacam-macam. Penulis dapat memilih konflik personal yang menekankan pada ‘kedilemaan’ tokoh dengan pikiran dan perasaannya. Ada pula konflik sosial, konflik ini terjadi akibat pergeseran antara tokoh dengan orang lain, masyarakat, maupun alam. Selain itu, ada konflik budaya yang mengangkat masalah perbedaan nilai, budaya, dan teknologi. Sebagai penulis, peserta workshop juga dapat mempersembahkan konflik spiritual yang mengacu pada pertarungan antara keyakinan dengan keputusan tokoh dalam memaknai hidup.
Kemudian, apa tips jitu yang harus diterapkan agar seseorang dapat menulis pentigraf dengan baik? Ya, menulis, menulis, dan menulis. Bila perlu menulis seperti orang gila! Biarkan ide-ide liar mengalir dari ujung pena. Justru dari cara unik ini, kreativitas dapat diluapkan tanpa khawatir akan kualitas karya.
“Show, don’t tell!” Untuk mewujudkan makna di balik ungkapan itu, penulis dapat menerapkan teknik dramatik dalam menulis pentigraf dengan menunjukkan pikiran, perilaku, latar, ciri fisik tokoh, maupun dialog minim dalam cerita. Penerapan teknik ini sangat dianjurkan karena ikatan alur pada setiap paragraf akan alami. Di sisi lain, teknik penulisan dramatik juga membantu pembaca bertransformasi dari pembaca manja menjadi cerdas. Hal itu dikarenakan pembaca harus menginterpretasi hubungan antara alur, masalah, dan pesan dari paragraf pendek. Maka, penulis harus terampil memilih diksi dan meramunya menjadi suatu kesatuan cerita.
Tulisan yang bagus adalah tulisan yang selesai. Kalau hanya sekedar ide tanpa aksi, percuma! Fokus pada tujuan menulis dan segera memulai agar poin-poin penting tidak terlupakan. Selain itu, semakin menunda-nunda, semangat penulis pun akan memudar.
Tips terakhir, menulislah seperti orang gila, tetapi menyuntinglah seperti orang waras. Artinya, penulis harus teliti memeriksa ketepatan EYD. Penulis juga perlu mencermati kembali hubungan kohesi dan koherensi serta kesesuaian isi dengan tema.
Tindak lanjut dari tips di atas tampak nyata pada sesi menulis dan presentasi. Pak Wahyu memberikan dua misi kepada para peserta workshop. Pada misi pertama, peserta harus melanjutkan dan memodifikasi kutipan cerpen yang sudah dibagikan. Pada misi kedua, peserta diminta untuk menulis tiga paragraf pentigraf dengan tema “Alam”. Misi itu harus diselesaikan selama 30 menit. Selanjutnya setia karya ditampilkan melalui layar proyektor lalu ditanggapi oleh peserta lainnya. Dalam proses ini, saran diberikan sebagai tanda apresiasi.
Secara garis besar, ada beberapa hal positif yang dapat dipetik dari kegiatan “Menulis Pentigraf” yang diadakan oleh Karmelindo. Selain pendalaman teori, pengalaman menulis kreatif pun disajikan dengan apik, khususnya bagi penulis pemula. Ditambah lagi, cara narasumber menyampaikan materi dengan lugas dan contoh tampaknya berhasil menarik minat para peserta untuk menulis. Sesuai semangat Karmel, kesadaran akan pentingnya ketekunan, kreativitas, dan pelayanan melalui cipta sastra telah digaungkan dengan harapan ilmu yang diperoleh peserta workshop juga dapat dialirkan kepada orang lain khususnya peserta didik.


