MENYARING HATI, MENEMUKAN JALAN PULANG : Rekoleksi Adven Guru dan Karyawan SMA DEMPO 2025

Oleh : Rachel Michellia
Dalam menyongsong Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, SMA DEMPO mengadakan kegiatan khusus bagi guru dan karyawan yaitu Rekoleksi Adven. Tujuan kegiatan ini tidak hanya sekadar berkumpul dan mendengar siraman rohani, tetapi juga merefleksikan, merenungkan, membangun komunitas, serta mempersiapkan diri untuk masa yang akan datang. Kegiatan ini bertempat di Rumah Retret St. Maria Magdalena a Postel di Jalan Jayagiri No. 20 yang dilaksanakan pada hari Senin, 15 Desember 2025. Di tengah hiruk-pikuk akhir semester, momen ini menjadi oase tersendiri. Mengusung tema “Bertobat Jalan Menyambut Yesus Sumber Sukacita Sejati”, kegiatan rekoleksi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah ajakan untuk menata kembali batin menyambut Sang Juruselamat.
Kegiatan diawali dengan sesi ice breaking yang seru dan penuh gelak tawa. Sekat-sekat formalitas di antara rekan kerja seketika mencair, berganti dengan kehangatan persaudaraan yang menjadi pondasi awal untuk masuk ke sesi yang lebih mendalam.
Belajar dari Cincin Pohon dan Perjalanan Pulang
Sesi materi dibawakan oleh Rm. Ignatius Budiono, O.Carm., yang menyuguhkan renungan mendalam namun tetap membumi. Romo Budiono mengajak peserta melihat hidup layaknya sebuah pohon. Seperti pohon yang setiap tahun menciptakan “cincin baru” dan tumbuh membesar, manusia pun semestinya demikian. Setiap tahun baru adalah kesempatan untuk lahir sebagai “Manusia Baru”. Namun, tak jarang hidup menjadi usang dan perlu diperbaharui.
Inti dari pertobatan yang dibahas dalam rekoleksi ini sangat menyentuh: Bertobat adalah “Pulang”. Romo menegaskan bahwa hidup pada dasarnya adalah sebuah perjalanan panjang untuk pulang. Pulang itu penting dan menggembirakan, sementara ketidakmampuan untuk pulang bisa berbahaya. Layaknya kisah “Anak yang Hilang” dalam Injil, dosa digambarkan sebagai tindakan “meleset dari sasaran” atau tersesat dan pertobatan adalah momen kesadaran untuk kembali ke rumah Bapa yang penuh kelimpahan.
Hati sebagai Penyaring Kehidupan
Salah satu poin menarik yang menjadi sorotan adalah tentang hati. Hati diibaratkan sebagai penyaring air. Ketika hati tertata baik, segala pengalaman hidup akan tersaring menjadi rahmat yang menyejukkan. Namun, kita perlu waspada terhadap “penumpang gelap” atau noktah hitam yang kerap mengotori hati kita. Oleh karena itu, diperlukan komitmen—yang secara harfiah berarti “menaruh bersama-sama”—untuk menjaga tujuan bersama tetap terwujud.
Revolusi Hati untuk Tahun Baru

Setelah kenyang dengan santapan rohani, peserta diajak masuk dalam dinamika kelompok yang lebih interaktif. Diskusi berfokus pada “Revolusi untuk Tahun Baru”. Dalam lingkaran-lingkaran kecil, para guru dan karyawan saling berbagi cerita tentang hal-hal yang membuat sukacita dan sebaliknya serta hal-hal yang menghambat sukacita tersebut.
Sesi ini menjadi ruang yang jujur dan terbuka. Presentasi dari setiap kelompok kemudian membuka wawasan bahwa hambatan sukacita seringkali berasal dari dalam diri yang belum “selesai” dengan masa lalu dan revolusi diri diperlukan untuk menyongsong tahun depan dengan lebih ringan.
Puncak Syukur dan Kebersamaan
Seluruh rangkaian permenungan disatukan dalam Perayaan Ekaristi (Misa). Di sinilah segala niat pertobatan dan komitmen dipersembahkan di altar Tuhan. Sebagai penutup yang manis, kegiatan diakhiri dengan makan bersama. Suasana kekeluargaan sangat terasa menyempurnakan sukacita yang telah dibangun sejak pagi.
Pesan Penutup
Rekoleksi Adven kali ini meninggalkan pesan kuat: Hidup adalah sebuah seni menunggu kedatangan Tuhan yang pasti. Mari kita jadikan hati kita “rumah yang belajar” dan membersihkannya dari segala hambatan agar kita siap menyambut Yesus, Sang Sumber Sukacita Sejati, tidak hanya saat Natal nanti, tetapi di setiap langkah kehidupan kita.
Selamat menyongsong Natal dan Tahun Baru dengan hati yang telah diperbaharui!


